oleh

“Memecah Berarti Membeli!” Ternyata Tidak Berlaku Terhadap Perempuan

-Senggang-547 views

brilio.net

Sewaktu sedang liburan ke Bali ada sebuah tulisan menarik yang terpampang jelas pada sederetan ruko-ruko aksoris, yaitu “Memecah Berarti Membeli”. Barangkali tidak hanya di situ saya melihatnya, di tempat-tempat yang biasa menjual peralatan dengan bahan terbuat dari kaca juga sama. Kemudian lama sekali saya baru paham maksud dari tulisan tersebut, kalau tidak salah, jika tidak berniat memiliki jangan coba-coba menyentuhnya apalagi memecahkan.

Mungkin maksudnya baik. Supaya pengunjung atau orang-orang seperti saya harus lebih berhati-hati lagi. Tentu ketika salah satu barangnya pecah, kemudian kita tidak membelinya, yang pasti akan menimbulkan kerugian pada si pemilik toko.

Sebagai pembeli, bukankah juga harus bersikap tanggungjawab—jika tidak berniat membeli maka jangan coba-coba menyentuhnya—jika tidak serius untuk memiliki jangan sekali main-main dengan barang tersebut, apalagi sampai harus memegang, mengelus-ngelus, atau bahkan sampai meraba yang menyebabkan kelecetan. Akhirnya, ketika barang sudah tidak utuh—pecah, bilangnya, “saya tidak sengaja, atau saya sudah tidak tertarik kembali.”

Lantas ketika sudah seperti itu siapa yang akan menanggung kerugiannya. Lagian jika hanya sekedar melihat-lihat tidak usah sampai mencoba. Sudah tahu tekstur barang mudah retak. Cukuplah memantau dari kejauhan.

Ungkapan seperti “Memecah Berarti Membeli” harusnya juga berlaku terhadap perempuan. Banyak kasus, ketika sudah berani memecahkan kemudian begitu saja meninggalkan—ketika sudah puas merasakan, lalu dengan seenaknya membuang—ketika tak sengaja mematahkan, kemudian begitu saja mencampakan.

Hati dan perasaan perempuan itu bukan pajangan atau bahan pameran. Kalau dari awal memang tidak tertarik untuk memiliki, ya sudah. Tapi jangan berkata manis di awal, memberi rasa nyaman saat masih kedekatan, dan setelah mendapatkan perasaan kemudian dibuang. Seperti di awal, jika tidak siap memiliki jangan coba-coba bermain-main.

Sama juga seperti barang-barang yang tidak boleh dipecahkan, karena itu tentu akan menimbulkan kerugian atau tidak bisa dikembalikan seperti semula. Barangkali jika itu hanya sebuah “barang” yang masih ada harga dan nilainya. Tetapi kalau sudah hati dan perasaan seorang perempuan! Bagaimana jadinya? Penjual buku saja tidak rela segel bukunya dibuka terahulu sebelum ada transaksi sepakat dari konsumen untuk membeli. Jelas, si pejual buku tidak ingin ketika pembeli sudah terlanjur membuka, kemudian tak berminat kembali, dengan alibi isinya tidak seperti yang diidam-idamkan.

Lagian Anda–pelaku, harus mengerti dan paham dampak yang timbul ketika sudah memecahkan–membuat patah hati seorang perempuan. Bisa-bisa akan menyebabkan kematian. Saya tidak sedang mengada-ngada. Butuh bukti? Studi yang dilakukan Harvard University Medical School menyebutkan bahwa patah hati mengakibatkan kematian mendadak. Di mana, ada sebuah ketidak stabilan sindrom.

Sindrom atau dikenal juga dengan sebutan takotsubo kardiompyopati adalah fenomena ketika fungsi pompa jantung seorang individu menurun secara temporer karena tekanan emosional tertentu. Ketika hormon katekolamin ini meningkat secara tiba-tiba, bilik pompa jantung utama yakni ventrikel kiri, menjadi melemah. Selain itu, gejala-gejala yang ditunjukkan sindrom ini hampir sama persis dengan gejala serangan jantung, termasuk rasa nyeri di dada dan napas yang pendek.

Bagaiamana, ngeri, bukan? Apalagi penelitian tersebut juga mengatakan bahwa hal itu rentan dialami oleh seorang perempuan. Ketika perempuan merasakan sebuah kesedihan atau patah hati berlebihan, biasanya akan merasa nyeri di bagian dada.

Patah hati yang terjadi terhadap perempuan tidak pernah sederhana, bagaimana tubuhnya seketika bereaksi. Kerap kali, pada kasus yang sangat langka, seseorang tidak pernah menyintas atau move on. Mereka hanya bertahan hidup.

Begitu pun hati perempuan itu sendiri. Bukanlah seperti halnya barang pecah. Meski pada kenyataannya bisa pecah, bisa remuk, hancur. Namun sekali lagi tak ada bayaran yang bisa menggantikan pada hati yang terlanjur terluka. Ironisnya tak ada yang bisa menuntut tanggung jawab dari sebuah perasaan yang tersakiti.

Maka, ketika sudah siap untuk memecahkan berarti sudah sanggup membelinya. Begitu juga berlaku pada perempuan, berani memecah, membuka segel, mengupas berarti harus berani juga untuk memiliki. Tidak hanya sekedar dibuat mainan, yang ketika sudah tidak menarik, enggan tuk kembali.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed