oleh

Mempertanyakan Kembali Paradigma Pendidikan Kita

Ilustrasi pendidikan Indonesia kini (M LATIEF/KOMPAS.com)

Bisa dikatakan untuk membawa sebuah bangsa ke arah kemajuan tentu tak lepas dari sejauh mana kualitas pendidikan yang dikembangkan. Pendidikan menjadi instrumen strategis dan fundamental untuk menata segala aspek kehidupan manusia termasuk dalam menata karakter masyarakat yang berwibawa.

Berangkat dari wacana itulah saatnya pendidikan yang ada di Indonesia ini dirancang sestrategis mungkin oleh para penggerak dan pemangku kebijakan agar tujuan ideal dari pendidikan untuk mencetak karakter manusia Indonesia yang berintegritas segera tercapai. Perancangan yang dimaksud adalah pendidikan yang bisa mendidik manusia untuk menjadi manusia yang paripurna kemudian sadar akan predikatnya sebagai “khalifah fil ard”.

Dengan demikian pada gilirannya pendidikan akan mampu membawa manusia pada derajat yang kulminatif, yaitu kesadaran spiritual manusia seutuhnya yang progresif, proaktif, partisipatif dan universal. Menjunjung tinggi nilai-nilai substansial kependidikan seperti kejujuran, kebenaran, keadilan, kearifan, dan kebijaksanaan. Maka, bagaimanapun corak paradigma pendidikan yang harus dikembangkan muaranya harus mengarah pada nilai-nilai tersebut.

Banyak orang mengatakan abad 21 sebagai abad pengetahuan. Abad di mana segala bentuk literasi terdigitalisasi kemudian memunculkan apa yang disebut dengan modernisasi dan globalisasi dengan segala dampaknya. Hal itu tentu menuntut adanya perubahan realistis dalam berbagai aspek sektoral sistem kehidupan manusia termasuk menuntut adanya revolusi dalam kehidupan. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan untuk lebih berorientasi pada pembangunan manusia secara holistik.

Dalam kontek keindonesiaan perubahan yang harus terjadi bukan berarti merubah paradigma pendidikan sebagaimana halnya yang dikembangkan di negara maju akan tetapi yang kita idealkan revitalisasi sistem pendidikan yang harus kita konstruk namun tetap berpijak pada nilai-nilai keindonesiaan (falsafah pancasila). Selama ini sepertinya sistem pendidikan nyaris kehilangan arah, pendidikan yang berkembang di Negara kita kering dari nilai-nilai Pancasila atau cendrung sekuler. Akibatnya, dunia pendidikan kita menghasilkan manusia-manusia amoral dan brutal.

Dapat kita lihat betapa degradasi moral mental spiritual dewasa ini semakin tidak terkendali. Suburnya kriminalitas, kekerasan di tengah masyarakat, merebaknya kasus terorisme mengemuka di mana-mana dan bahkan korupsi kembali tumbuh di tubuh birokrasi. Paling tidak itulah indikator problem yang dapat kita asumsikan bahwa pendidikan kita belum bisa menghasilkan manusia-manusia yang uswatun hasanah.

Lalu, mengapa problematika ini muncul? Di mana letak pengaruh pendidikan kita?

Kesimpulan sementara, pendidikan kita selama ini melahirkan manusia-manusia sesat (keblinger dan hipokrit). Padahal yang kita harapkan dunia pendidikan melahirkan manusia yang unggul secara intelektual, berkeadaban dan berkarakter sebagai mana tersirat dalam sila ke-2 Pancasila, “Kemanusiaan yang adil dan beradab.”

Dalam pandangan Driya Kara, esensi dari pendidikan adalah memanusiakan manusia atau membentuk manusia yang berkarakter bukan menjadikan manusia sebagai robot kapitalisasi dan gurita globalisasi (humanizing human being). Sebuah realitas yang tidak bisa kita pungkiri adalah paradigma pendidikan kita berkiblat ke dunia barat yang sangat tidak relevan dengan kultur Indonesia. Akhinya, melahirkan manusia yang tidak berkepribadian keindonesiaan—meskipun ini masih bisa dibantah. Yang terjadi, tolok ukur keberhasilan pendidikan adalah mampu berkompetisi di dunia industry. Hal ini, bagaimanapun, akan membentuk manusia berwatak materialistik, kapitalistik, individualistik, dan bahkan sekularistik.

Sebenarnya, dalam konteks keindonesiaan salah satu indikator keberhasilan pendidikan adalah lahirya manusia yang “Uswatun Hasanah”, manusia yang menjunjung tinggi nilai moralitas, kebangsaan, keagamaan, dan cita-cita kebersamaan (DarmaningTyas).

Maka, sebagai bentuk tawaran paradigma pendidikan yang harus kita gagas ke depan adalah sisem pendidikan berbasis keindonesiaan, supaya hasilnya dapat menumbuhkan watak manusia yang arif, religius, dan berwawasan multicultural.

Merujuk pada sajak Rendra (1997) “Pendidikan di Negara ini berkiblat ke barat di sana anak-anak memang dipersiapkan untuk menjadi alat industri” (Rendra dalam sajak anak muda). Tidak bisa digugat kalau pendidikan di negara maju berorientasi sekularistis-pragmatis dan mekanistis, karena jelas muaranya, yaitu pada dunia industri kapitalisme.

Sistem pendidikan di Indonesia tidak cocok jika harus menjiplak ke Negara barat, karena kultural Indonesia memiliki basis yang sangat kaya dan kuat  daripada negara lain di dunia dan itu harus terus dijunjung tinggi. Jika pendidikan kita selama ini salah arah (latah), sejatinya harus dibedah ulang atau setidaknya harus sesuai dengan konsep yang diharapkan Ki Hajar Dewantara, yaitu pendidikan yang mampu memajukan budi pekerti, pikiran, jasmani, sehingga dapat memajukan kesempurnaan hidup secara holistik.

Penulis kini sedang bermetamorfosis mencari jati diri.

Komentar

News Feed