oleh

Menampar Pipi Sendiri

Menampar pipi sendiri tentu saja boleh. Itu bukan sebentuk penganiayaan diri. Mungkin ada orang yang berpikir demikian. Tapi saya tidak. Sebelum orang lain menampar pipi Anda, akan lebih baik jika Anda sendiri yang menampar pipi Anda terlebih dahulu. Apalagi jika Anda termasuk orang yang memiliki tabungan gengsi melimpah, tentu ditampar atau tertampar orang lain terasa tidak enak dan menjengkelkan-menyakitkan.

Beberapa kali saya ditampar habis-habisan oleh orang lain. Tetapi, sejak saat itu, saya belajar menampar pipi sendiri. Sekali lagi, tentu saja itu boleh. Yang tidak boleh adalah ketika Anda melukai perasaan Anda sendiri, lalu mengucapkan, turut berduka cita atas meninggalnya perasaanku padamu. Bahkan yang lebih kejam, bila luka itu tidak membuat Anda bangkit dari hidup yang tak bertenaga, lalu memilih menggali kuburan sendiri sebelum waktunya.

Di sebuah tempat yang saat ini masih ada di bumi, tepatnya di Pare, saya bertemu dengan mentor-mentor menyenangkan di Basic English Course (BEC). Dalam kelas saya merasa berada di bawah kaki langit tanpa terbatas dinding-dinding cupet ruang kelas. Salah seorang mentor, yang lidahnya sudah macam orang bule tulen, membawa saya dan teman-teman menjauh dari ruang kelas, menuju area yang lebih luas bernama dunia. Saya membatin, jangankan dunia, Indonesia saja saya belum menelanjangi setiap lekuknya.

Sang mentor menyebut beberapa hal di dunia, semacam nama-nama ikon kota di berbagai negara, dan saya merasa tertampar karena tidak bisa memecahkannya dengan jawaban-jawaban yang benar. Jangankan benar, mengajukan sebuah jawaban saja saya tidak berani karena pasti, dengan keyakinan sangat tinggi sebab saya tak punya wawasan di wilayah itu, jawaban saya akan keliru. Ini bukan tentang ketidakberanian sebenarnya, tetapi pilihan sikap untuk “lebih baik diam daripada berbicara asal-asalan.” Pernyataan ini bukan kebenaran mutlak. Anda masih bisa mendebatnya.

Di BEC, ada sebuah predikat bergengsi yang selalu kami dengar dan dengungkan di dalam kelas, termasuk juga dalam setiap nightly speaking: international qualified person. Maksudnya, ketika kami masuk BEC dan tanpa sedikit pun diberikan ruang berbahasa Indonesia, karena kalau ketahuan menggunakan bahasa Indonesia satu kata pun siswa tidak akan diluluskan, kami akan bertemu dengan orang-orang asing saat ujian kelulusan. Apalagi, dapat dibilang dunia sudah terintegrasi ke dalam satu sistem tunggal. Liberalisme di wilayah ekonomi memberikan ruang besar bagi bertemunya manusia dari berbagai negara, bahasa, suku, dan budaya sehingga menuntut adanya orang-orang yang memiliki kualifikasi internasional. Paling tidak, Anda perlu menguasai bahasa Asing, boleh Mandarin, atau bahasa Inggris, yang sampai sekarang masih digunakan sebagai bahasa dalam pergaulan internasional.

International qualified person tidak cukup hanya menguasai bahasa asing. Ia juga perlu memiliki wawasan di luar dunia di mana ia dilahirkan, sehingga ia tidak kagetan dan melempem ketika bertemu orang-orang yang demikian. Sebagai misal, kita memang tidak kaget saat melihat Lora S. Huda—Chief Manager of Scuto, yang bergerak di bidang konsultan penerbangan—bicara tentang dunia penerbangan dan investigatif menyoroti jatuhnya Lion Air JT 610 pada acara sharing and discussion bertema Santri dan Teknologi yang digelar Pusat Kajian Politik Islam (PKPI) Malang. Tapi kita seolah-olah sedang melihat orang dari planet lain ketika mendapati Mas Lora—panggilan untuknya—ngomong tentang prinsip-prinsip hukum dan kehakiman, relasi dolar dan rupiah serta mata uang-mata uang lain di dunia, pertanian, hingga Obama dan sepenggal sejarah Cina. Pertanyaan yang diam-diam lahir di kepala adalah dari mana ia tahu sebanyak itu? Di titik itu tiba-tiba saya merasa kita menjadi lata dan kampungan.

Sebetulnya, itu pemandangan yang tidak mencengangkan. Jika hal tersebut dianggap sebagai kejadian aneh bin ajaib, maka saat itu pula sebenarnya kita telah kembali ke zaman purba, zaman di mana akses memperoleh wawasan holistik masih sebuah mimpi yang mustahil terwujud. Tetapi dewasa ini, untuk sampai pada Yunani, perang teluk, runtuhnya tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet, atau negara utopia yang diangankan Plato, kita hanya perlu secerdas mungkin menggunakan akses yang sudah tersedia dengan sangat melimpah. Anda bisa membaca buku sebanyak yang Anda mau. Orang-orang sukses di dunia selalu menyempatkan diri untuk membaca—menambah wawasan dan pengetahuan.

Beruntungnya, ketika ketemu orang-orang yang wawasannya lebih luas, kita merasa bahwa ilmu kita masih belum sampai seujung kuku pun. Bahkan jauh di bawah itu. Jika di titik ini Anda merasa bahwa pengetahuan Anda berada sangat jauh di bawah kesombongan Anda, berarti Anda sedang mengosongkan gelas pikiran Anda agar siap diisi dengan air-air pengetahuan baru. Tetapi kurangnya wawasan dan pengetahuan tidak cukup kalau hanya berhenti pada titik kesadaran. Anda harus meneruskannya dengan upaya-upaya konkret yang konsisten.

Dalam kesunyian tertentu saya kerap tertampar oleh wawasan-wawasan baru di luar yang sudah menggenang dalam kepala. Hidup di sebuah tempat terpencil, yang berada dalam jarak sangat jauh dari Amerika Serikat atau Cina, bukan sebuah alasan untuk tidak mencari wawasan baru. Terlebih sekarang Amerika Serikat atau Cina bukan sekadar ruang negara-bangsa yang dipagari teritori geografis. Dua negara di antara berbagai negara maju lainnya itu sudah masuk lebih dalam ke kehidupan kita melalui air yang kita minum, pakaian yang kita kenakan, makanan yang kita nikmati, dan nyaris segala barang dan jasa yang kita konsumsi.

Pada gilirannya kita menjadi segerombolan masyarakat konsumer. Kebahagiaan dicapai dengan cara mengkonsumsi banyak barang (branded). Begitulah memang konsumerisme berbicara, bahwa untuk menjadi bahagia kita harus mengkonsumsi sebanyak mungkin barang dan jasa. Kita tak perlu lagi jalan kaki ke warung, karena kita sudah bisa memesan makanan melalui aplikasi online di ponsel. Jika bisa, setiap enam bulan sekali kita ganti ponsel, mobil dan rumah. Dalam membangun hubungan, kalau memungkinkan, seseorang ingin ganti pacar seminggu sekali.

Apakah mungkin? Sangat mungkin, karena romantisisme mengatakan, dalam rangka menciptakan potensi-potensi kemanusiaan, kita perlu memiliki sebanyak mungkin pengalaman berbeda. Kalau kata Yuval Noah Harari, kita harus membuka diri pada spektrum emosi yang luas. Atau jika meminjam bahasa Ach Dhofir Zuhry dalam beberapa kesempatan diskusi bernada guyon, “… tidak menutup diri pada kebaikan”, sehingga jika pun seseorang sudah punya pacar atau istri, ingin rasanya ia memberikan ‘perlindungan dan kedamaian’ bagi orang lain yang membutuhkan atau yang dipaksa membutuhkan.

Hal-hal demikian, konsumerisme dan romantisisme, kerap membuat sebagian besar masyarakat, terutama kalangan mahasiswa yang notabene merupakan calon pewaris tahta kepemimpinan, gelap mata dan melupakan urgensitas pengetahuan filosofis-substansial, ilmiah-teoritis, dan ilmiah-praktis-teknologis. Memang sangat tidak mungkin seseorang memiliki pengetahuan di berbagai bidang. Tapi pelajaran yang dapat diambil, sebagai warga dunia, sangat tidak mungkin apabila kita menutup mata pada pengetahuan dan wawasan di luar bidang yang kita geluti secara profesional di ruang-ruang kelas.

Maka, menampar pipi sendiri lebih dulu lebih baik daripada ditampar oleh tangan-tangan asing. Pastikan bahwa kita tidak sedang hidup di alam mimpi. Kita hidup di dunia penuh kompetisi. Jika kita mampu berlari kenapa harus berjalan santai. Dan yang lebih penting, kita tidak sedang lari-lari di tempat sambil meratapi perasaan yang sudah membujur jadi bangkai.

 

Latif Fianto, bercita-cita nikah muda tapi tidak tercapai. Menulis fiksi dan nonfiksi. Novel pertamanya, Batas Sepasang Kekasih (Basabasi, 2018).

Komentar

News Feed