oleh

Mencari Aman

-Kolom-1.006 views

Suatu hari saya ditanya seorang teman, kenapa selalu kami yang dikambinghitamkan saat sesuatu yang jelek terjadi. Kenyataan di luar harapan, misalnya. Mendengar pertanyaan itu saya bilang padanya, “Ya, karena semua lebih suka mencari aman.”

Dewasa ini, kita sering menemukan orang-orang hebat, pintar, mampu menyampaikan wacana kritis terhadap sebuah realitas yang dianggap terjadi di luar ekspektasi—atau memang kurang menguntungkan bagi mereka yang selalu menganggap dirinya lebih hebat dari yang lain. Dalam keadaan-keadaan tertentu orang-orang yang demikian kerap mencari posisi aman, bersembunyi di balik tembok pelarian, bahkan menghilang setelah semua tak sesuai dengan apa yang telah dicanangkan.  

Karakter semacam itu biasanya selalu meletakkan kesalahan kepada orang lain saat keadaan sedang kacau, dan menjadi yang terdepan ketika kondisi yang dihadapinya menguntungkan.

Melempar batu, sembunyi tangan. Perumpamaan seperti itu cukup cocok disematkan kepada orang-orang yang demikian. Berani berbuat, tetapi tak berani bertanggungjawab. Selalu mencari titik paling aman bagi dirinya sendiri. Selalu orang lain yang dijadikan tumbal penderitaan atas semua kesalahannya.

Persoalan ini berlaku atas semua golongan, kelompok, komunitas, organisasi, pemimpin, bawahan, junior, senior, dan semacamnya. Orang-orang acap kali bersembunyi di balik topeng ketenaran. Karena merasa lebih mumpuni orang-orang yang demikian kemudian kerap memojokkan juniornya. Sebagai misal, dalam sebuah kasus keorganisasian, seorang senior kerap memberikan saran dan kritik yang seolah-olah haram dibantah, ditolak, atau tidak dilaksanakan. Yang lebih parah, ketika suatu hal terjadi di luar prediksi dan rencana awal, alih-alih senior ini berkata “Perkara itu saya tidak ikut-ikutan.” Bukankah hal seperti itu menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak bertangung jawab. Memilih untuk mencari aman. Semacam tidak mau berkubang dalam dosa-dosa.

Apakah hal semacam itu karena kesalahan Tuhan. Barangkali Tuhan hanya bisa menciptakan, lalu dibiarkan dengan sendirinya. Kalau memang begitu, berarti yang musti disalahkan dalam soal ini, tentu Tuhan. Selaku sang pencipta. Namun apa iya, Tuhan dengan segala kuasa dan kesempurnaanya melakukan hal sekeji itu.

Apa perlu harus belajar dari anak kecil yang ketika bermain dan tak sengaja memecahkan gelas kelantai. Yang kemudian beling-beling berserakan. Tentu ia akan tidak tinggal diam. Menangis adalah sikap tanggungjawabnya ketika hanya itu yang dapat ia lakukan karena ketidaksanggupannya dalam berbuat lebih dari hanya sekedar menangis. Lagi, apa perlu juga sikap tanggungjawab itu kita perlu mengadopsi serta belajar dari se ekor ulat, yang membuat siapa pun akan merasa sangat menyebalkan. Lalu apa yang ia lakukan setelah itu, ia berubah bentuk menjadi kupu-kupu cantik, dan berbalik menjadikannya penghuni keindahan taman disetiap halaman-halaman rumah.

Pertanyaannya adalah? Apakah anak kecil dan se-ekor ulat mencari aman, dan tidak bertanggungjawab atas semua perihal yang telah keduanya berbuat, tentu tidak. Lalu, mereka melakukan apa yang musti untuk mempertanggungjawabkan atas prilakunya.

Mengenai tanggungjawab, ada yang menarik pada salah-satu novel terbaik karya Eka Kurniawan berjudul “Lelaki Harimau” dimana, Arwan Sadat dibunuh secara keji dan kejam oleh Margio setelah mengetahui bahwa selangkangan ibunya, Nuraeni ditusuk dengan kemaluan Arwan Sadat dan dan buah dada ibunya yang meskipun bertahun-tahun dibiarkan tak terlampau matang maupun membusuk, Arwan Sadat meremas-remas disaat dirinya seketika ingin memuaskan nafsu birahinya. Dan menemukan bola-bola itu mengegelembung pejal. Hal itu dilakukan pada saat Nuraeni kembali datang tuk menjadi pembantu dirumahnya.

Margio menuntut balas, dengan cara membunuh Arwan Sadat sebagai bentuk dari tanggungjawab karena telah menodai ibunya.

Dalam kehidupan nyata, sejatinya sikap tanggungjawab telah menjadi keharusan yang musti dimiliki oleh manusia. Artinya, semua itu telah menjadi bagian hidup dari setiap individu, bahwa manusia sejak lahir sudah dibebani yang namanya tanggungjawab. Tinggal bagaimana kita untuk mampu menyelesaiakan setiap persoalan yang datang. Tanpa harus lari dan mencari aman.

Berkenaan dengan ini semua, Mohctar Lubis telah lebih dulu menelanjangi tentang karakter bangsa Indonesia yang sesungguhnya. Dilakukannya disaat membacakan tentang ‘Manusia Indonesia’ di Taman Ismail Marsuki Jakarta yang jatuh pada tanggal 6 April 1997, ia melocoti karakter-karakter jelek yang dimiliki orang-orang Indonesia.

Salah-satunya ialah, bahwa ciri manusia Indonesia yang paing menonjol yaitu, sikap kemunafikannya yang penuh dengan kepura-puraan, sehingga segala tindak tanduknya berbeda dengan yang dikatakan dan lain pula dengan apa yang dipikirkan.

Nah, yang paling krusial yang sampaikan oleh budayawan kondang tersebut, mengatakan dan ciri dari bangsa Indonesia yang tidak terpuji lainnya, yaitu enggan bertanggungjawab atas pikiran, perkataan, putusan, sikap, perbuatan dan utama sebuah kesalahan yang telah dilakukan.

Kalau seperti ini siapa yang salah? Bangsa Indonesia yang sudah turun-temurun mewarisi karakter yang demekian, atau semua memang salah Tuhan. Kembali pada pribadi. Koreksi dan evaluasi, apakah sebenarnya kita sudah bisa bertanggungjawab atau tidak. Sebab, orang yang selalu lari dan mencari aman di setiap semua persoalan tidak lebih dari seorang pecundang.

Komentar

News Feed