oleh

Mencari Semar

Apa yang tersirat dalam benak saat pertama kali mendengar nama “Semar“? Wayang, Budaya Jawa, atau mungkin siratan lain di luar itu.

Membahas soal salah satu tokoh dalam pewayangan itu takkan ada habisnya, karena terlalu luas dan multitafsirnya sosok yang satu itu. Semar bukan hanya wayang semata. Apalagi memaksa mengindetikkannya dengan budaya Jawa. Jangan! Semar adalah kita semua. Semar adalah milik segala bangsa.

Mengapa? Bukankah Jawa identik dengan wayang? Bukankah Semar itu sendiri adalah tokoh dalam pewayangan?

Perlu dipahami, pertanyaan-pertanyaan di atas sangat mudah dipatahkan. Sebab, di negeri bertuhan ini tidak lazim rasanya bila melepaskan apa pun dari keterkaitan Tuhan. Semar adalah suatu lambang dari pengejawantahan ekspresi, persepsi, dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan kepada konsep spiritual.

Secara harfiah Semar berarti penuntun makna kehidupan. Hal ini diperkuat secara visual dengan jari telunjuk yang mengajak segala umat untuk tetap bertauhid dalam situasi, kondisi, dan suasana apa pun.

Dalam tulisan yang digubah sang maestro budaya Indonesia Emha Ainun Nadjib pada rentang waktu kurang lebih 3 tahun untuk menjadi sebuah buku yang hari ini bisa kita baca bersama. Buku itu berjudul “Arus Bawah” yang mulanya terbit bersambung di harian berita buana mulai 28 Januari – 31 Maret 1991 hingga akhirnya tersusun menjadi buku pada tahun 1994. Sebuah novel fenomenal pada masa orde baru kala itu dengan pengambilan tokoh dalam alur cerita pewayangan dikemas rapi sebagai salah satu bentuk perlawanan rakyat dengan gema yang membekas yakni “Dewa adalah Rakyat dan Rakyat adalah Dewa”.

 Dalam buku ini dikisahkan bahwasanya Sang Semar telah menghilang dari Karang Kedempel di saat carut-marut pemerintahan desa karang Kedempel kala itu. Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme yang menjadi makan enak pemerintahan kala itu berhasil mencekik masyarakat karang Kedempel. Sistem kekuasaan otoriter yang digunakan oleh kepala desa diterapkan dengan sangat efektif dan efisien oleh para pamong yang bekerja di bawahnya. Hal ini dibuktikan dengan tertindasnya rakyat jelata tanpa mampu lagi merasakan penindasan tersebut. Banyak rakyat di Karang Kedempel tersebut menganggap penindasan tersebut sah-sah saja dilakukan oleh penguasa.

Doktrin‘raja adalah dewa yang harus selalu di sembah dan ditaati’ begitu menyusup dan mengakar di dalam jiwa dan pikiran masyarakat Karang Kedempel. Oleh karena itu Semar yang juga seorang dewa, bahkan dia adalah dewanya para dewa turun ke Karang Kedempel untuk membebaskan ketertindasan rakyat.

Dalam misinya di Karang Kedempel dia berperan sebagai rakyat jelata yang memiliki kebebasan dalam berpikir. Semar yang seorang dewa tidak pernah menyembah kepada raja. Walaupun demikian, dia tetap menghormati raja tersebut dengan bersikap sopan, terutama setiap berbicara dengannya.

Hilangnya Semar ini disik api oleh Gareng sang Filsuf desa yang alang kepalang belingsatan saat tiada ya kabar kiai Semar. Namun Petruk malah senyum-senyum saja melihat kakaknya belingsatan. Itulah sebabnya Petruk dijuluki Kiai Kantong Bolong. Nama itu mencoba menjelaskan falsafah kekosongan. Jiwa tanpa dinding sehingga tidak bisa digedor, mental tanpa tembok sehingga tak bisa dirobohkan. Kekosongan tak bisa dipukul, tak luka dipisau dan tak ada kekuatan apapun yang membuatnya berkeping-keping. (hal. 40)

Kemudian si bungsu bernama bagong yang mempunyai kebiasaan aneh, yakni tidak pernah membedakan siapapun termasuk kepada bapaknya diapun memanggil mar atau panggilan sesuka hatinya. Disaat kakak-kakaknya dan masyarakat begitu ta’dzim kepada Semar. Hal ini terjadi karena kekritisan pikirannya terhadap kepalsuan demokrasi yang dibangun sedemikian rupa oleh pemerintah sehingga kaum tua adalah penentu semua. Yang muda tidak diperbolehkan menemukan sesuatu sendiri, yang muda harus buntu pikirannya, harus tidak berpikir, harus tidak menentukan sendiri apap yang seharusnya ia pikirkan dan lakukan. Hanya menjadi kutukan dan alas kaki kaum tua. Hanya sebagai pewaris bukan perintis. Jadi sebisa mungkin bagong mendobrak stigma ini.

Dari sedikit saja definisi keempat tokoh di atas sudah bisa kita simpulkan bahwasanya hari ini kita nyaris kehilangan Semar hari ini bahkan sebagian kaum sudah benar-benar merasakan kehilangan itu. Secara spiritual kita saling sikut-sikutan perihal ibadah, ketika hati hendak bercinta dengan Tuhan seketika harus resah sebab berbagai macam ketololan dalam negeri sendiri. Seolah ada stakeholder yang berkuasa di bumi ini selain Tuhan.

Apa salah jika penulis mengatakan ini tolol? Tidak kan. Akan semakin berbahaya jika kita kehilangan keempatnya. Bagaimana kalau pemuda ditikam nalarnya? Dagangan jabatan akan laris manis. Hukum rimba dimana-mana, kita ambil contoh saja kasus yang menimpa ananda Luthfi Alfiandi seorang anak STM yang mengaku di strum beberapa waktu lalu itu. Memang seperti hukum rimba bukan?

Kalau saja saya menganalogikan, seekor serigalapun tak mampu jika harus bertarung dalam kandang singa sendirian. Kemudian muncul dinasti di berbagai wilayah, kita ambil saja contoh Kerajaan semenjana yang tidak butuh lama bubar sebab antah brantah tanpa perang saudara apalagi sang Raja yang moksa seperti Jayabaya dan Brawijaya. Bukan hanya Semar yang hilang dari jiwa mereka, namun punokawan sudah tak mengalir lagi di darah mereka. Jatidiri sengkuni yang identik dengan politik adu domba mulai diminati hari ini.

Dengan misi apapun akan tetap salah bila dinasti-dinasti itu kembali dipaksa ada lagi. dan masih banyak lagi Orang Dalam Gangguan Jiwa sebab hilangnya Semar dari jiwa mereka. Untuk itu marilah kita bersama-sama menggali kembali apa yang telah terkubur dalam diri mempersempit ruang gerak sengkuni dalam diri dan menemukan guru yang sejati.

Komentar

News Feed