oleh

Mencintai Pengetahuan?

Kehidupan ini lucu dari tanah sampai langit, saling meninggi dan merendah, meninggi lalu lupa yang lebih tinggi, merendah lalu terpendam tanah. Tak menyiram dengan baik, sehingga yang tumbuh hanyalah rerumputan hijau kemalasan.

Siapa yang tak resah dengan parahnya kehidupan? Gelisah dalam diri adalah sampah yang tak terolah. Bagaimana bisa mengolah dengan baik jika alat yang ada hanyalah wejangan, yang lama kemudian tertumpuk sampah.

Terwujud terang dan senyum cinta yang tumbuh merekah pada mereka yang paham tentang arah, dan hanya pemburu buahlah yang gelisah akan cinta, karena dia yang tak pernah merebahkan tangannya pada tanah dan ladang-ladang pengetahuan. Kalaupun ya, itu terkadang hanyalah kepentingan legalitas pengetahuan dari Negara (wisuda), tak terlalu cukup membuktikan kebenaran makna yang terpendam dalam diri, karena  bukanlah legalitas cerdas kritis dari kalangan bangsa sebagai cara untuk sampai pada tujuan, karena kenyataanya hari ini kepercayaan terhadap itu telah memudar sebab sebagian besar pencerah pengetahuan selalu tak memberikan cara. Sebab masih terlalu menunggu buah yang itu hanyalah Self Estem yang sering tak berkualitas.

Apakah Anda salah satu orang yang gampang jatuh cinta? Kalau ya mungkin kalian salah satu orang yang sulit Move on dari masa lalu bahkan dari zona nyaman yang sulit membuat Anda berkembang dan maju melawan modernitas, yang itu terbangun bukan dari pikiran alam, tapi dari pengetahuan yang mungkin sudah jauh meninggalkan Anda. Anda bahkan tetap stagnan dari zona ketidaktahuan. Menyulapnya menjadi kenyamanan-kenyamanan ambigu yang mudah terprovokasi nafsu, dan kemalasan diri.

Jika Anda pernah jatuh cinta pada pengetahuan sejauh mana Anda mengorbankan hidup Anda untuk itu. Dan di dalam sejarah setiap pengorbanan akan selalu menjadikan dirinya pahlawan. Dan jika pengorbanan Anda terhadap pengetahuan cukup tekad-nekad dan totalitas maka ia akan menjadi pahlawan bagi diri anda sendiri. “Satu tahun Anda mengabdikan atau mengorbankan diri mencari ilmu, maka ilmu itu akan seumur hidup mengabdi pada Anda.” Itulah mencintai, yang ujiannya perlu Anda lawan sendiri, yang menjadikan sulit tertusuk oleh rasis-rasis religi yang masih primitif Mongol, senggol dikit bacok, belom salah kafir. Rindunya Dilan masih kalah beratnya.

“Bagaimana bisa memberikan kebahagiaan yang terbaik pada orang lain, sementara membahagiakan diri masih belum mampu.” Belajar hal yang sama tentang pengetahuan-mencintai dengan mencintai-pengetahuan. Dalam filosofi gelas tentang pengetahuan, jika gelas dalam dirimu masih kotor dan berisi air keruh jangan sia-siakan hidup Anda berpura-pura mengisi air yang jernih. Oleh karenanya Anda perlu mengosongkan air dan membersihkan  gelas dari bakteri-bakteri kehidupan Anda sebelumnya. Agar menjadikan Anda mudah mengisi gelas kosong dalam diri Anda.

Menanam bibit yang baik maka akan tumbuh dan membuahkan yang baik, jika tidak tanah pasir dalam diri tidak sesuai untuk menumbuhkan Apel yang baik, atau menanam Apel di tanah yang cocok akan menumbuhkan dan membuahkan yang baik, jika tidak berarti cara merawat tumbuhan-tumbuhan dalam diri masih keliru.

Baiklah! Pengetahuan tidak datang begitu saja. Namun pengetahuan selalu menemukan metodenya sediri, memang dalam cara mendapatkannya, di dunia barat, selalu ada beberapa bagian, yaitu dari indra yang kemudian alirannya disebut sebagai aliran empirisme, kedua dari akal, bahwa pengetahuan itu tidaklah selalu dari indra melainkan juga pengetahuan itu juga dari akal sumbernya yang nantinya di sebut aliran rasionalisme. Sedangkan dalam dunia pemikiran Islam intuisi juga dimasukkan dalam sumber pengetahuan yang lebih absolute dari kedua di atas.

Beranjak pada pengetahuan di mana dalam sejarahnya telah memberikan perdebatan panjang di mana pengetahuan selalu menempatkan dirinya pada setiap yang mau mengisinya dan akan selalu ada ruang yang tak terbatas pada diri sendiri. Iya, jika Anda masih menyadari dan berpikir tentang diri sendiri maka setidaknya Anda menemukan bahwa diri Anda masih jauh dari kebenaran, sebab kebenaran perlu diuji secara ilmiah atau secara epistimologi.  Dalam beberapa aliran banyak mendefinisikannya dari para empirisme, idealisme, rasionalisme, dan lainnya serta perkembangannya juga selalu mempunyai referensi sendiri untuk mengungkapkan dari mana ilmu pengetahuan itu terbentuk.

Dalam pendekatan sejarah, pengetahuan mempunyai ciri-cirinya masing-masing, yang dalam Yunani kuno selalu dicirikan setelah “terjadinya pergeseran pemikiran dari mitos ke logos” yang beberapa tokohnya adalah tiga avatar Yunani, Socrates, Plato, Aristoteles dan ada juga Phytagoras. Selanjutnya dalam abad pertengahan selalu dicirikan dengan “di mana pemikiran filososfis sudah mulai kehilangan otonominya dan cenderung teosentris. Beberapa tokohnya adalah Thomas Aquinas, Augustinus, dan beberapa yang lain. Terus berlanjut pada zaman modern (abad 17-19) pengetahuan masih berkembang di mana di abad itu dicirikan sebagai salah satu keadaan “menyatunya dua pemikiran Rasionalisme dengan empirisme”  yang beberapa tokohnya adalah Immanuel Kant, Berkeley, David Hume. Yang kemudian memunculkan para tokoh selalnjutnya seperti Auguste Comte, yang hadir dengan aliran positifismenya, yang selalu dicirikan dengan Lahirnya ilmu-ilmu yang Positivistik dengan ciri Objektif dan Fenomenalisme, Redaksionisme dan Naturalisme.

Anda perlu kembali sebentar untuk mengetahui dari mana semua ini berasal, tidak perlu kemudian menjauhkan diri dari masa-masa dimana pengetahuan ini muncul, agar kemudian diri ini tidak selalu tertipu oleh dunia modern. Sebab pengetahuan tak akan pernah menjadikan Anda rugi hanya saja semakin Anda mencari dan menemukannya akan memmbuat diri semakin bodoh. Itulah pengetahuan yang katanya Ali bin Abi Thalib ra. Bahwa “orang yang mengetahui dirinya bodoh itu, dia tidak benar-benar bodoh”. kualitas itu memang sangat penting dari pada kuantitas yang keropos, dan selalu lupa bahwa dirinya masih bodoh. Sehingga memakasakan kebenaran dirinya kepada orang lain dan melupakan bahwa yang selain dirinya juga mempunyai caranya sendiri.  Namun diatas dari segalanya bahwa pengetahuan tidak akan menjadi sebuah pengetahuan jika kemudian semua tindakan Anda berkontradiksi dari pengetahauan yang Anda  miliki. Dengan begitu masih ada yang lebih tinggi dari pengetahuan, yang di sebut moral, etika, estetika (aksiologi) baik dalam bermasyarakat atau bahkan moral Anda terhadap diri sendiri.

Namun pada intinya dari itu semua, jika dunia modern hari ini memberikan ruang yang menganga luas untuk membuat Anda semakin malas, jangan pernah terjebak, namun sebaliknya jika dunia modern telah membuatmu semakin berkembang memaknai kehidupan dan memahami bagaimana cara menikmati hidup sesungguhnya. Maka belajarlah sampai Anda memberikan pelajaran pada banyak orang.  Perlu di ingat bahwa ada yang istimewa dalam diri kita yang kemudian menjadikan kita sebagai substansi “manusia”. Jika yang istimewa di biarkan tak berkembang dan semakin membodoh, maka jangan pernah mengharap keistimewaan karena kepastian yang memungkinkan pasti adalah Anda akan terasing atau Anda yang selalu mengasingklan diri dari kehidupan.

Dalam bahasa romantisnya, kalau Cinta tak mendatangi Anda berarti ada yang salah pada diri anda, sebab cinta itu tak memililki label yang melarang untuk dimiliki sebagian orang tapi bagi semua orang, lalu jika Anda belum mampu mencintai pengetahuan setidaknya belajar mencintai kebaikan untuk pertama kali, lalu belajarlah menjadi baik, atau menyaksikan dulu baik menonton atau membaca sebanyak mungkin sesuai kebutuhan Anda, lalu berusaha belajar menjadi seperti mereka yang menginspirasi Anda menjadi lebih baik.

Akan ada yang selalu menghampiri, satu kata kemalasan menjadi penghalang sejati bagi setiap tujuan. Yang katanya, “jika ia (kemalasan) dijadikan raja dalam diri Anda, maka Anda akan selalu menjadi budak dalam kehidupan ini, tapi jika ia dijadikan sebagai budak maka rasionalnya Anda akan menjadi raja pada kehidupan Anda.” Dan oleh karena ilmu pengetahuan itu penting,  karena ia bisa menjadikanmu apa saja yang Anda mau sesuai kedudukan Anda, diposisi Raja atau budak (kemalasan) dalam kehidupan ini.

Kita sebagai manusia tidak pernah lepas dari makna, karenanya manusia bergerak berisyarat, berbicara dan berbahasa, yang bahkan kehidupan yang masih abstrak kedepan jika tidak mempunyai seni untuk membaca mengungkap misteri maka makna yang sesungguhnya selalu terpendam semakin tinggi, sementara yang lain menggali dan menemukan permatanya. Hal ini kalau dalam kaca hermeuneutik dalam setiap diam dan gerak yang menjadi keseharian kita itu mempunyai makna (pengetahuannya) masing-masing.

Mohammad Zuhry, mahasiswa STF Al-Farabi Malang

Komentar

News Feed