oleh

Meneropong Terjadinya Perang Dunia III dari Ketegangan AS vs Iran

-Esai-314 views

Kompas.com

Sebuah perang global pernah terjadi di Eropa. Itu sekitar tahun 1914 hingga 1918. Perang besar berikutnya, yang konon menewaskan 60 juta jiwa, terjadi tahun 1939 sampai 1945. Yang pertama disebut Perang Dunia I. Yang kedua adalah Perang Dunia II. Lalu, mungkinkah akan muncul the Next World War atau Perang Dunia III?

Apakah kemungkinan itu ada? Menyadari realita geopolitik dunia beberapa tahun belakangan rasa-rasanya kemungkinan itu sangat terbuka. Misal, konflik Suriah yang tidak pernah selesai-selesai serta teror ISIS yang membuat sebagian besar orang berpikir bahwa kemungkinan terjadinya Perang Dunia III tidak bisa dikesampingkan.

Beberapa tanda lain juga mengarah ke kemungkinan tersebut. Tahun 2016 Korea Utara pamer kekuatan nuklir, Rusia pun demikian. Bahkan Vladimir Putin memanggil warganya di seluruh dunia untuk pulang. Amerika Serikat yang setelah runtuhnya Uni Soviet menjadi negara adidaya, pun melakukan peremajaan persenjataan nuklir.

Itu sejalan dengan pendapat pengamat internasional yang memprediksi bahwa Perang Dunia III akan dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat yang berkonfrontasi dengan Rusia, Iran dan China.

Kemungkinan yang akan sangat mungkin dapat diteropong dari ketegangan yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran pasca tewasnya Jenderal Korps Garda Revolusi Iran, Qassem Suleimani, oleh serangan drone Amerika Serikat. Sumpah pemerintan Iran, Ayatullah Khamenei, yang akan membalas serangan AS itu cukup menegangkan dunia persilatan. Apa lagi yang terdengung di jagad raya kalau bukan kemungkinan terjadinya Perang Dunia Jilid III.

Serangan AS yang menewaskan orang terbaik di Iran setelah Ayatullah Khamenei itu cukup mengagetkan. Kelompok oposisi Amerika Serikat juga mempertanyakan alasan di balik penyerangan tersebut. Namun, perlu diingat, setiap hal memiliki riwayat. Penyerangan AS terhadap Qassem Suleimani kali ini adalah buntut dari serangan roket yang diduga dilakukan milisi Syiah pro-Iran ke pangkalan militer AS. Amerika membalas serangan tersebut ke basis Kataib Hizbullah, menewaskan lebih banyak dari yang dilakukan milisi Syiah pro-Iran.  Balas-balasan serangan tersebut terus terjadi hingga berpuncak pada tewasnya Qassem Suleimani.

Serangan terhadap Qassem Suleimani, sekali lagi, memunculkan topik Perang Dunia III. Topik ini sangat mengkhawatirkan karena tak ada manusia yang menyukai perang. Topik itu muncul karena Qassem Suleimani sendiri adalah kepala pasukan elit Iran. Pasukan ini memiliki tugas khusus melakukan operasi militer menangkal serang-serangan dari luar Iran khususnya di wilayah Timur Tengah. Kelompok-kelompok radikal seperti Al-Qaeda di Irak dan ISIS di Suriah adalah tujuan utama kelompok Garda Revolusi Iran atau The Iranian Revolutionary Guards Qud Force ini.

Menyebut serangan mematikan AS terhadap Iran sebagai kemungkinan muncunya World War III bukan pendapat yang berlebihan. Tetapi itu masih terlalu jauh senyampang tak ada pihak-pihak lain yang terlibat. Lagi pula, berbicara Perang Dunia adalah sesuatu yang besar, yang juga akan memunculkan kerugian yang sepadan. Perang global hanya akan menyebabkan banyak kerugian secara politik, sosial, dan terutama ekonomi.

Yang paling mungkin, ketegangan AS-Iran akan membangkitkan kembali perang di Timur Tengah atau familiar disebut Perang Teluk. Perang Teluk merupakan perang negara-negara Timur Tengah atau negara-negara yang terletak di kawasan Teluk Persia demi memperebutkan hegemoni sebagai penguasa. Perang Teluk I terjadi antara Iran dan Iran tahun 1980-1988. Disusul Perang Teluk 2 di mana Irak melakukan invasi terhadap Kuwait tahun 1990. Perang Teluk 3 terjadi setelah AS memulai serangan terhadap Irak pada tahun 2003.

Selama ini Irak menjadi lahan perebutan pengaruh antara AS dan Iran, meski akhirnya Irak menjadi sekutu Iran pasca tragedi perang teluk 3 yang berakhir tahun 2011. Sepertinya, dengan ketegangan tingkat tinggi yang terjadi antara AS dan Iran baru-baru ini Irak berdiri di simpang jalan, antara berangkulan dengan AS dan bersama-sama memerangi Iran atau tetap bergandengan tangan dengan Iran, saudara kembarnya. Irak tentu bingung harus memilih jalan mana karena AS sendiri telah menempatkan sebanyak 6.000 militer aktif di Irak. Itu kalau AS tidak berpikir untuk menambah lebih banyak kekuatannya di sana.

AS dan Iran adalah dua negara yang sama-sama memiliki kekuatan perang yang mengerikan. Irak diduduki AS pada ‘Operasi Pembebasan Irak’ yang terjadi pada tahun 2011,sebelum kemudian Irak datang ke dalam pelukan Iran. Dalam hal ini, kalau perang harus meletus, Irak tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu hasil duel menarik ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed