oleh

Menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW, Mengenang Sisi Humoris Sang Baginda

Kaligrafi Muhammad SAW (Ist).

Indotribun.id, Edukasi- Kemarin, Selasa 19 Oktober 2021 seluruh umat Islam di dunia menyambut hari besar Islam, yaitu; hari kelahiran sang baginda Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal 1443 Hijriyah.

Namun, sebelum itu perlu diketahui bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tetap jatuh pada Selasa, 19 Oktober 2021. Meski di kalender nasional, hari liburnya memang bergeser ke hari Rabu, 20 Oktober 2021.

Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan hari kehormatan dan tuaian peristiwa besar bagi umat Muslim, serta dapat pula diambil hikmahnya. Setiap Muslim perlu mengambil pelajaran maupun hikmah dari peringatan sang baginda ini.

Dalam sebuah Hadist dijelaskan sebagai berikut; dari Qatadah al-Anshari, dia berkata, Nabi ditanya tentang puasa di hari Senin. Beliau menjawab, “Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus menjadi Rasul, atau diturunkan kepadaku (wahyu).” (HR Muslim).

Dilansir dari salah satu media di Arab Saudi elbalad.news, dalam rangka menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW, mungkin ada baiknya jika kita mengingat kembali tentang sisi kehidupan Sang Baginda. Nabi Muhammad SAW juga manusia biasa yang sebetulnya sama memiliki sisi yang humoris. Ini sebagaimana sebuah kisah yang memuat sisi humor Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Suatu ketika, seorang nenek mendatangi Nabi dan berkata, “Wahai Nabi, mohonkanlah kepada Allah SWT supaya aku dimasukkan ke surga.” Lalu Nabi menjawab,” Wahai ibunya si Fulan, di surga tidak ada orang tua renta seperti engkau.” Lalu nenek tersebut berpaling sambil menangis.

Kemudian Nabi SAW berkata kepada salah satu sahabat, “Sampaikanlah (kepada nenek tersebut) bahwa dia tidak akan masuk surga dalam keadaan tua renta. Karena Allah SWT berfirman, ‘Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung, lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan (QS Al-Waqi’ah ayat 35-36). Artinya, ketika dia masuk surga, Allah akan mengembalikan kemudaan dan kecantikannya.” (HR Tirmidzi).

Maksud Nabi pada saat itu ingin menghibur si nenek bahwa kelak ketika ia masuk surganya Allah, ia tidak akan berperawakan tua renta lagi. Melainkan kelak ia akan menjadi muda kembali.

Dan itulah sifat Al-A’radhu Basyariyah Sang Baginda Muhammad SAW sebagaimana yang terlah termaktub dalam Aqoid yang 50 dalam kitab Aqidatul Awam.

(Indotribun/Faruq)

Komentar

News Feed