oleh

Minat Baca dan Minat Membeli Buku

Saya adalah pembaca sekaligus penimbun buku yang insyaallah bahagia. Saya suka membaca sekaligus menimbun buku-buku yang saya baca. Ditimbun karena buku yang saya khatamkan lebih sedikit daripada yang tidak. Beberapa buku hanya saya baca beberapa bab. Ada yang hanya separuh. Bisa jadi karena saya tidak (belum) paham isi bukunya. Atau karena sudah terlanjur mengoleksi buku baru.

Berbincang tentang minat baca dan minat membeli buku

Berbicara tentang minat baca masyarakat Indonesia, rasanya membuat nyeri, sedikit sesak, banyak sedihnya. Jika melihat data hasil survei dari Most Literate Nations in the Word, yang diterbitkan central connecticut State University, pada maret 2016 lalu, Indonesia menempati peringkat ke-2 dari belakang. Berada pada posisi 60 dari 61 negara berdasarkan literasi internasional. Betapa sangat menyedihkannya minat baca di negeri ini.

Sedang menurut laporan UNESCO, ternyata hanya 1 orang masyarakat Indonesia dari 1.000 orang yang memiliki minat baca tinggi. Jika surveinya dilakukan terhadap mahasiswa baru di kampus saya, yang kabarnya berjumlah 2011, berarti hanya ada 2 mahasiswa yang memiliki minat baca tinggi. Nyesek hati abang, dek!

World culture Score Index merilis waktu membaca buku masyarakat dan meletakkan Indonesia pada posisi ke 17 dari 30 negara yang ditinjau. Sedikit mengembirakan karena berada di posisi agak tengah. Namun jika dilihat banyaknya waktu yang dihabiskan, hanya 6 jam dalam seminggu perorang meluangkan waktunya untuk membaca buku. Berarti setiap hari tidak sampai 1 jam masyarakat Indonesia membaca. Masih lebih banyak waktu yang dialokasikan untuk ngopi dan kongkownya para mahasiswa yang melabeli dirinya kaum aktivis.

Memang minat baca tidak bisa lepas dari beberapa faktor. Salah satunya tingkat buta huruf masyarakat yang masih tinggi. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyebutkan, jumlah buta aksara di Indonesia akhir tahun 2014 bahkan mencapai 5,97 juta jiwa yang berarti setara 3,7 persen dari total penduduk Indonesia. Jumlah ini pun mampu mempengaruhi rendahnya minat baca.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah masyarakat tidak biasa membaca buku sejak dini. Artinya membaca buku belum menjadi gaya hidup sebagian besar masyarakat. Hal ini karena terbatasnya akses mendapatkan buku-buku yang berkualitas. Misalnya juga masih jarang perpustakaan umum berdiri di berbagai daerah, masih terbatas di kota-kota besar. Bahkan tak sedikit di berbagai lembaga pendidikan yang belum memiliki perpustakaan. Pun memiliki perpustakaan koleksi bukunya umur terbitnya sudah lebih tua ketimbang tahun saya lahir. Hal ini juga berpengaruh terhadap minat baca.

Seharusnya kampus dan sekolah menjadi tempat menanamkan minat baca, dengan menyediakan tempat membaca yang nyaman dan koleksi buku bacaan yang memadai. Karena apapun prodi atau profesi seseorang, membaca sebuah kebutuhan untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Karena biasanya seseorang yang tumbuh dan besar di lingkungan bersama buku-buku, minat bacanya akan lebih tinggi ketimbang yang jarang bersentuhan dengan buku apalagi tidak sama sekali.

Berbicara Minat Membeli Buku

Saya sebagai pembaca dan pengoleksi buku (meski tak banyak-banyak amat koleksinya), saya bisa sangat bahagia ketika ada bazar buku-buku murah dengan kualitas yang bagus. Bukan bajakan. Bagi saya (mulai terpengaruh salah satu senior), membeli buku-buku bajakan merupakan suatu tindakan tercela karena tidak menghargai penulis dan penerbitnya.

Saya tidak tahu alasan pastinya kenapa saya suka mengkoleksi buku. Padahal saya sadar sesadar-sadarnya, dari sekian banyak buku yang saya koleksi, hampir sebagian besar belum saya selesaikan. Mungkin karena sudah sejak lama saya punya obsesi memiliki taman baca di rumah agar adik-adik saya, mungkin juga anak-anak saya, tidak kekurangan bahan bacaan seperti saya dulu.

Setiap pergi ke bazar atau toko buku, saya selalu teringat kalimat, “buku itu investasi yang nggak bisa tergantikan oleh apa pun, enggak bakal basi kok. Jadi mumpung ada yang murah kenapa dilewatkan?“ Atau kalimat yang lain. Udah beli aja dulu, mumpung lagi murah. Dibaca atau enggak itu urusan belakang. Suatu saat juga akan bermanfaat. Kalau enggak buat kamu, ya buat anak-anakmu kelak.” Alhasil, memang lebih banyak enggak selesai bacanya.

Dari kebiasaan menggoleksi buku ini saya menjadi tahu dan lebih yakin, yang saya paparkan di atas tentang rendahnya minat baca masyarakat benar adanya, karena orang-orang di sekitar saya memang begitu adanya. Minat baca mereka sangat rendah. Padahal orang-orang di lingkungan saya mayoritas masyarakat akademis, yang seharusnya memiliki minat baca dan membeli buku tinggi. Namun nyatanya tidak begitu.

Bisa dipastikan, orang yang suka membaca, ketika melihat tumpukan buku, secara reflek akan mengambil dan membaca. Apabila tangannya tidak gatal untuk mengambil dan membacanya dapat dipastikan dia tidak suka membaca apalagi berminat untuk membeli.

Ketika minat membacanya rendah maka otomatis minat membeli bukunya juga payah. Saya sering mendapat pertanyaan dari senior. Baca buku apa minggu ini? Jarang sekali ada yang bertanya beli buku apa minggu ini? Dari sini saja dapat disimpulkan, kegiatan membeli buku adalah kegiatan yang tidak biasa di masyarakat kita.

Bahkan ada ungkapan, “bodoh sekali orang yang meminjam buku, kemudian dia mengembalikan bukunya. Dan lebih bodoh lagi orang yang meminjamkan bukunya.”

Akhir-akhir ini saya sering ingat kalimat itu. Akhirnya sekarang saya tak sembarangan  meminjamkan buku-buku saya pada orang. Bukan karena tak ingin dibilang bodoh sebab meminjamkan buku, namun karena takut orang yang meminjam buku tersebut adalah orang yang tidak bodoh sehingga buku yang dipinjam tidak dikembalikan. Juga bercermin pada pengalaman, buku yang dipinjam lebih banyak tidak kembali, pun kembali biasanya dalam kondisi memprihatinkan.

Tidak hanya kenangan dengan seorang perempuan saja yang indah. Pada setiap buku itu saya juga memiliki kenangan yang indah. Namun hal itu (bukti kenangannya) menjadi hilang sebab minat meminjam teman-teman lebih tinggi ketimbang minat membeli buku.

Syamsul Arifin, menulis puisi dan esai. Juga tidak lupa menulis kamu.

Komentar

News Feed