oleh

Negeri Agraris, Pertanian Yang Miris

“Petani Adalah Penyelamat dan pertahanan terakhir Negeri

Hasyim Asy’ari

 

Hari ini adalah tanggal 24 September, dan pada setiap 24 September diperingati Hari Tani Nasional Indonesia. Hal ini merupakan penghormatan tersendiri untuk para petani di negeri ini. Sebagai profesi mayoritas penduduk negeri ini selain profesi nelayan. Sejarah penetapan tanggal 24 september sebagai Hari Tani nasional mengacu pada dikeluarkannya atau ditetapkannya Undang-Undang No 5 tentang Pokok Agraria tahun 1960 atau biasa dikenal dengan sebutan UUPA 1960. Hal ini menjadi babak baru bagi sektor pertanian nasional kita. Meski hingga hari ini pada usianya yang ke 58 tahun masih banyak petani yang menjerit, maka tidak salah jika setiap tanggal 24 september banyak petani, masyarakat juga mahasiswa mengekspresikan peringatan hari tani dengan berbagai aksi demonstrasi dan sebagainya.

Di dalam benak sahabat-sahabat mungkin masih terlintas pertanyaan, apa yang penting dengan Peringatan Hari Tani nasional? Mengapa musti diperingati setiap tahunnya ?

Pertama, semangat dan kesadaran bahwa pertanian itu penting. Berbicara pertanian kita sudah berbicara hajat dan kebutuhan orang banyak. Kh. Hasyim Asy’ari mengatakan “Petani adalah penyelamat dan pertahanan terakhir negeri.” Bung Karno juga bilang, “Pangan adalah soal hidup dan mati.” Jika kita mengacu pada pendapat dua tokoh bangsa Indonesia ini kurang penting apa coba pertanian. Coba kita bayangkan jika petani mogok bertani ramai-ramai, berhenti menanam padi dan jagung dalam satu musim tanam. Mau makan apa penduduk bumi ini. Apa tidak kelaparan?

Kedua peringatan hari tani nasional harus menjadi refleksi dan evaluasi bersama. Apa saja yang sudah kita dapati. Bangaimana perjalanan sektor pertanian kita. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan bersama, perlu perhatian dan perbaikan bersama, mengingat pertanian berkaitan dengan hajat dan kebutuhan orang banyak. Misal, masalah kerawanan pangan, perubahan iklim global, kekeringan juga tak ketinggalan semakin berkurangnya jumlah populasi petani.

Saya rasa kita semua sudah mafhum bahwa tidak sedikit lahan pertanian produktif yang semakin banyak dialihfungsikan. Dari sektor pertanian ke non-pertanian. Dialihkan menjadi perumahan, lokasi industri, tempat wisata, jalan tol juga infrastruktur yang lain. Hal ini tidak dapat dihindari melihat pertumbuhan penduduk yang terus bertambah. Jika sekarang penduduk dunia masih berada di kisaran 7 milliar jiwa lebih. Dan di prediksi tahun 2050 menjadi 9.5 milliar jiwa. Tentu mereka butuh tempat tinggal, butuh akses jalan dan sebagainya yang harus di penuhi. maka tak ada pilihan lain selain alih fungsi lahan untuk menyediakan kebutuhan itu. Terlepas dari itu semua. kita juga perlu ingat bahwa penduduk yang semakin meningkat ini mereka juga mempunyai kebutuhan lain untuk bertahan hidup malahan ini lebih urgen, mereka butuh makan. Dan makanan ini diperoleh dari hasil pertanian yang lahannya sudah dialihkan pada sektor non-pertanian.

Meningkatnya populasi penduduk seiring dengan meningkatnya permintaan pangan. Masalahnnya hal itu tidak dibarengi dengan bertambah luas lahan pertanian. Namun sebaliknya semakin sempit saja. Karena bumi tidak bertambah besar ataupun lebar dengan bertambahnya penduduk, bertambah sesak iya.

Indonesia berada di urutan keempat terbesar dunia, sekitar 239 juta jiwa. Akan tetapi dari sekian juta jiwa itu sedikit sekali yang berminat bergerak di sektor pertanian. Jumlah petani di Indonesia terus menurun. Data yang di lansir oleh BPS di tahun 2013 jumlah petani masih berkisar di angka 38,97 juta orang. Sedang pada tahun 2015 tinggal 37,75 juta orang saja. Dalam waktu 2 tahun berkurang lebih 1 juta petani. Hal ini salah satu bukti bahwa bidang pertanian mulai di tinggalkan oleh masyarakat. Sungguh miris sekali sektor pertanian ini tiap tahun semakin sepi peminat padahal pertanianlah yang menghidupi semua sektor yang ada.

Tidak kalah mirisnya dari jumlah petani Indonesia yang masih tersisa. Rata-rata umurnya sudah berada di usia yang kurang produktif. Mayoritas sudah berumur di atas 40 tahun. Sedangkan masyarakat yang usianya masih produktif enggan terjun di sektor pertanian. Selama ini sektor pertanian atau jika menjadi petani seolah-olah pekerjaan hina-dina. Sebab yang terlihat selama ini petani selalu miskin, kotor, penuh lumpur dan jauh dari kata sejahtera. Sehingga para orang tua kita dan masyarakat secara umum. Mulai sejak kecil sudah menanamkan kepada kita agar tidak menjadi seperti mereka yang berprofesi petani. Selalu di dorong menjadi Pegawai Negri Sipil (PNS) agar hidupnya di jamin pemerintah. Setiap bulan gaji jelas ada uang pensiun.

Apabila hal ini terus di biarkan, dapat di pastiakan 30-50 tahun lagi di Indonesia tidak akan ada lagi yang menjadi petani. Lalu pertanyaannya kita maakan apa tampa adanya petani ? Oleh karena itu di hari Tani nasional ini. Kita coba rubah cara pandang kita tentang pertanian. bertani bukan hanya soal cangkul dan lumpur saja. Menjadi petani bukanlah pekerjaan yang hina, miskin. Namun juga bisa kaya dan sejahtra apabila petani bersatu updet terhadap informasi dan perkembangan pertanian.

Negara kita dijuluki negara agraris. Namun pertaniannya sungguh miris. Kita perlu impor beras, gandum, jagung dan beberapa produk pertanian lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Padahal taka asing di telinga kita. Tanah kita tanah surga, tongkat kayu di lempar saja dapat tumbuh. Tapi semua itu dulu, saat pemudanya bangga bertani tak canggung memanggul cangkul.

Syamsul Arifin, menulis puisi dan esai. Juga tidak lupa menulis kamu.

Komentar

News Feed