oleh

P-e-l-a-b-e-l-a-n

computerworld.com

Mula-mula ingin sekali saya membuka tulisan ini dengan apa yang sempat dipetuahkan Tan Malaka dalam bukunya yang bertajuk “Madilog (materialisme, dialektika dan logika)”, bahwa penulis merupakan murid hasil dari pemikiran lain. Seyogyanya tidak ada pengetahuan yang tidak diambil dari pengetahuan sebelumya. Maka sebuah pelabelan kiranya tak pantas jika terlalu disematkan pada orang-orang yang dianggap paling mempuni pada bidang pengetahuan tertentu—pintar, pakar, dan sejenisnya.

Sejatinya, tak ada yang benar-benar baru—anyar, semua diadopsi atas pikiran-pikiran terdahulu, yang barangkali hanya sedikit diasah, dicarikan sudut pandang dan dengan kacamata yang berbeda atau dilihat dari aspek keterbaruannya. Siapa saja boleh menafsirkan. Tak ada batasan-batasan soal tersebut.

Begitu pun pengetahuan. Sesekali saya sempat mencermati perseteruan orang-orang di media sosial soal pengakuan-pengakuan siapa yang lebih benar dalam hal pertarungan pemikiran. Katakanlah di halaman pesbuk yang baru-baru ini viral; pertarungan gagasan yang memperebutkan argumennya masing-masing, jelasnya mencari kebenaran. Di mana saling lempar argumen; bantahan-bantahan, yang tentu pada akhirnya menjurumus soal siapa yang salah dan siapa yang benar?

Salah dan benar tentu tidak bisa jika dilihat hanya dalam satu perspektif; jika menurut Anda pacar Anda sudah paling sempurna, belum tentu kata orang lain demikian—katakanlah dalam soal ini.

Filsuf Karl Raimund Popper punya konsep penyederhanaan mendasar menjawab problema tersebut bahwa “keliru adalah manusia”, sehingga bukan saling menyalahkan, tetapi saling berkalaborasi membuktikan pembenaran dengan memasukkan beberapa metodologi-metodologi dasar.

Lebih lanjut, Popper kemudian menganggap bahwa pengetahuan akan salah dan benar dengan dibuktikan pengetahuan yang lain. Begitulah pengetahuan bekerja; selalu tumbuh untuk menghasilkan pengetahuan yang lebih terbaru. Justru itu, perumusan pengetahuan yang akan dianggap benar adanya ialah konklusi sementara—hipotesis, yang berangkat atas keterbatasan informasi penunjang, dalam hal ini bisa dibantah, disangkal untuk dinggap salah dan benar.

Berangkat dari itu semua, retorika, gagasan, pemikiran bisa saja disangkal. Tidak menutup kemungkinan akan dikatakan kurang tepat. Lumrah adanya. Sering menggap jika kebenaran adalah proses pencarian pengetahuan. Bahkan tak jarang kita mengklaim bahwa apa yang kita katakan adalah sebuah kebenaran. Dan jika pun harus ditarik pada aspek filsafat, wajib meliputi rasionalitas, materialis, dan eksistensialis.

Sebelum jauh dari itu, pelabelan atas klaim-klaim paling benar sebab mampu dan sanggup membuat pemikiran akan pengetahuan baru mesti harus dicegat, bahkan perlu diberhentikan supaya tidak semakin jauh. Jika peneliti—pemikir, mendeklarasikan bahwa suatu saat nanti akan ada yang menyangkal hasil teorinya, kenapa tidak dalam klaim-klaim pelabelan yang berlebihan. Artinya begini, tidak baik menganggap Anda-lah paling benar dari semua ini.

Bahwa ingin saya katakan, teori, pengetahun, maupun gagasan bisa saja suatu saat nanti bisa dibantah. Jangan karena sebab atasan, atau senioritas yang kemudian kebenaran mutlak akan disematkan.  Atau karena takut argumennya terancam kemudian macam memberikan intimidasi supaya lawan bicaranya tak mampu berdabat. Anggap saja psikisnya diancam.

Mari saya akan membukakan sedikit cacatan saya, yang sengaja saya rangkum saat meminjam buku dari seseorang, dalam buku yang bertajuk “Penghancuran buku dari masa ke masa”, yang ditulis oleh Fernando Báez. Ada kutipan menarik bahwa terkadang hanya untuk dinggap bisa dalam teori tertentu para ahli mesti harus mematikan teori terdahulunya. Meski teori lama tersebut benar adanya, bahwa kebenaran seringkali tenggelam atas keserakahan ego yang ditimbulkan penerusnya. Misalnya, mungkin saja sebenarnya tubuh perempuan itu merupakan laki-laki, begitu pun sebaliknya, tubuh laki-laki adalah kepunyaan perempuan. Sebagaimana warna pink dahulunya merupakan warna yang lebih digemari laki-laki ketimbang perempuan, namun sekarang yang telah bergeser dan disalahartikan.

Ada upaya menghacurkan atau bahkan mengubur kebenaran yang sebenarnya untuk kebenaran yang keluar atas dirinya sendiri supaya lebih diaggap. Dan dipergunakan untuk seterusnya. Upaya menciptakan sejarah baru yang pastinya harus melibatkan penemuannya sendiri.

Memang betul sekali dalam sebuah ungkapan bahwa kebenaran ada masanya. Dan begitu pun kesalahan ada masanya pula. Tergantung dari zaman dan sudut pandang yang dipakai. Tidak selamanya laut berwarna biru, begitu pun kebenaran.

Jika boleh mengambil teori yang saya kutip dari buku “Seni Menipu Ala Sun Tzu” yang dikatakan oleh kritikus modern, Ch`i-ch` bahwa sebuah taktik perang saja tidak mungkin relevan dengan masa musim semi dan musim gugur.

Mestinya harus ada pembaharuan-pembaharuan, baik menyangkut persoal pemikiran, gagasan maupun teori itu sendiri, demi terjadinya tumbuh berkembangnya sebuah pengetahuan-pengetahuan baru.

Komentar

News Feed