oleh

Pandemi Virus Corona dan Berubahnya Sistem Pendidikan

-Esai-318 views

Setelah World Health Organization (WHO) menetapkan status coronavirus disease covid-19 sebagai pandemi pada Rabu 11 Maret lalu, kini virus tersebut semakin mengganas. Terbukti, Italia, Iran dan Korea Selatan masuk dalam daftar negara yang terdampak kasus corona terbanyak setelah Tiongkok. Menurut data Johns Hopkins CSSE saat ini jumlah kasus coronavirus covid-19 di seluruh dunia mencapai 339.259 jiwa.

Indonesia sendiri sampai hari ini tercatat sekitar 579 orang yang sudah terinfeksi. Jumlah tersebut dipastikan akan terus meningkat, mengingat masih belum ada penangkal untuk memberantas covid-19 yang mengerikan tersebut.

Virus yang tidak kalah dengan Flu Babi yang terjadi pada tahun 2009 ini sudah semakin terasa dampaknya. Mulai dari persoalan perekomian yang semakin ambruk, nilai dolar yang terus melemah, sampai kepada kocar-kacirnya sistem pendidikan kita saat ini.

Seiring penetapan status pandemi untuk virus corona, sejauh ini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan soal pendidikan yaitu proses belajar mengajar harus dilakukan dengan cara daring (online). Pemberlakukan social distancing diharapkan mampu meminimalisir terinfeksinya virus tersebut. Di samping itu, pemberlakuan kebijakan tentang mengajar jarak jauh masih belum efektif. Masih banyak terdapat sekolah-sekolah yang belum menerapkan terhadap instansinya masing-masing. Mendadaknya Irformasi, sarana-prarasana menjadi penyabab utama tidak dilaksankan kebijakan tersebut.

Menurut Muhammad Rajab dalam opininya yang dimuat pada halaman detik.com mengatakan bahwa dengan kebijakan penundaan sekolah-sekolah di negara-negara, termasuk Indonesia yang terdampak virus tersebut secara otomatis dapat mengganggu hak setiap warganya untuk mendapatkan layanan pendidikan yang layak. Penutupan sekolah-sekolah dan kampus tersebut tentu dapat menghambat dan memperlambat capaian target yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dan atau sekolah masing-masing.

Ia juga menyinggung kondisi yang akan terjadi jika belum mendapatkan titik terang kapan selesainya virus covid-19 ini, untuk kemudian sekolah-sekolah maupun kampus bisa melakukan aktivitas akademis sebagai mana mestinya. Dampak yang sangat krusial atas pemutusan proses belajar mengajar tersebut, di antaranya; pencapaian kematangan siswa dalam meraih tujuan belajarnya, baik secara akademis maupun psikologis. Lebih-lebih siswa yang harus tertunda proses pembelajarannya akibat penutupan sekolah sangat memungkinkan mengalami trauma psikologis yang membuat mereka demotivasi dalam belajar.

Maka dari itu pemerintah diharapakan mampu memberikan solusi yang efektif. Demi keberlanjutan pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed