oleh

Perang Dagang Antara Restoran Chum Bucket dan Krusty Krab Pada Kartun SpongeBob

Mulanya saya tidak pernah tertarik dengan kartun SpongeBob, tetapi karena saya harus mengalah dengan adik perempuan saya ketika berebut remot televisi untuk segera diubah ke channel kartun si kuning dari Bikini Bottom tersebut akhirnya mau tidak mau saya harus merelakan dan seketika itu pula mesti ikutan menonton. Meski membosankan. Makanya saat iklan sudah muncul seketika itu juga cepat-cepat saya menggantinya.

Saya berpikir bahwa kartun SpongeBob hanyalah sebuah kartun biasa. Ya, seperti  film-film kartun pada umumnya; tontonan anak kecil ketika mau berangkat sekolah, atau pun teman tuk mengisi waktu luang di hari Minggu. Takada yang spesial. Hanya bercerita bahwa ada kehidupan lain selain kehidupan darat yaitu lautan. Meski akhirnya juga saya meyakini memang terdapat kehidupan-kehidupan lainnya yang tak pernah manusia tahu atau memang sengaja disembunyikan.

Tanpa disadari dan amat terlalu lama saya benar-benar mulai memperhatikan. Selain karena takut adek perempuan saya merengek lalu mengadu kepada Umi apa salahnya saya mencoba menyilami setiap alur ceritanya. Benar, setiap kali tayang ada sekitar tiga sampai lima episode yang ditampilkan dengan cerita yang kadang berbeda-beda.

Hingga pada akhirnya sampai di mana otak saya harus berpikir hebat dan tidak menganggap remeh esensi kartun kehidupan bawah laut ini. Mungkin saja kalian–pembaca yang budiman akan demikian pula, memikirkan ulang dan segera menonton kembali bahwa kartun Spongebob merupakan kartun satire yang serat akan makna. Lebih tepatnya sindiran keras kepada manusia dalam menjalankan hidup; isi serta karakter tokoh yang diciptakan benar-benar ada maksud serta tujuan yang ingin disampaikan.

Berbekal ilmu filsafat, meski tak lebih dari seujung kuku yang saya pelajari dari buku “Berjabat Tangan dengan Filsafat” karya Herlianto yang mengutip filsuf René Descartes dengan konsep skeptisnya bahwa ketika memandang sesuatu harus selalu dengan tidak pasti, dicurigakan, meragukan dan tentunya selalu dipertanyakan, supaya kita benar-benar paham untuk tidak mudah dipermainkan. Begitu pun Tom Friedman mengatakan skeptis merupakan sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah ditipu.

Seperti halnya rasa penuh keraguan dan mempertanyakan kartun SpongeBob, saya mencoba mencermati karakter-karaker tokohnya. Sebut saja Squidward Tentacles, seekor gurita yang tinggal di rumah berbentuk Moai dengan sikap hedonnya yang selalu ingin foya-foya, hanya mimikirkan diri sendiri. Krisis sifat sosial. Terbukti, tentangganya pun hampir tak pernah ia kunjungi, hanya ketika ada keperluan yang mendesak saja baru ia menyempatkan datang.

Berbanding terbalik dengan tokoh Patrick Star, si bintang laut yang tinggal di batu tetapi mempunya sifat sosial yang luar biasa. Barangkali sifat bodohnya yang selalu ingin membantu sesama maka tidak berlebihan bahwa saya mengatakan ia mempunyai sikap humanis luar biasa. Sebagaimana Abraham Maslow seorang Yahudi yang lahir di Brooklyn, New York, 1 April 1908 mengungkapkan bahwa sikap humanis didasari atas kebutuhan dasar piramida orang lain yang harus terlebih dahulu. Artinya memproritaskan orang lain  ketimbang pribadinya sendiri.  

Belakangan, gemar terjadi kejahatan kemanusiaan yang lebih kepada rela mengorbankan nyawa orang lain demi sebuah hasrat untuk mencapai kepuasan-kepuasan pribadi. Gemar sekali melihat orang lain kalah, serta senang menyaksikan kehancuran sesamanya.

Demikian pula yang tak kalah menariknya tokoh Tuang Krabs, si kepiting tua yang gila harta, makhluk rakus dan raja pelit. Saking pelitnya ia bahkan tidak mau pergi ke dokter saat ia sakit untuk berobat. Kekikirannya mengalahkan keinginan cepat sembuhnya sebab terlalu takut mengeluarkan uang.

Mula-mula saya mengira jika tokoh ini memang tak baik dicontoh. Apalagi si kepiting duda tersebut tidak punya pikiran visioner, di mana ia tak punya keinginan lebih untuk merenovasi restorannya supaya lebih bagus, atau bahkan akan membuka cabang-cabang lain dipelbagai titik dilautan. Tetapi sangkaan itu tiba-tiba keliru sebab saya menemukan sisi yang berbeda dari juragan Krabby Patty ini. Sebagai pengusaha ia ternyata cukup jenius mengelola restoran Krasty Krapnya. Dengan konsep monopolinya yang menjadi satu-satunya makanan cepat saji se-Bikini Bottom bahkan seantero lautan Tuan Krabs sangat bebas untuk memainkan harga. Sehingga gampang sekali mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Jelas kantongnya semakin tebal dengan uang.

Sebetulnya bukan tidak ada pesaing dalam merebutkan pangsa pasarnya, restoran Chum Bucket tepat di sisi jalan depan restorannya yang pemiliknya juga  merupakan teman semasa kecilnya tersebut benar-benar tidak sanggup mengalahkan pamor dari restoran Krasty Krab. Plankton terpaksa harus selalu mengakui kehebatan restoran yang terbentuk dari perahu bajak laut tersebut.  

Perseteruan perang dagang dalam memperebutkan pelanggan antara Krasty krab dengan Chum Bucket yang hal itu selalu dimenangkan Tuang Krab ada pada menu andalannya, yaitu Krabby Patty. Banyak tersimpan keistimewaan yang tak jarang Plankton seringkali ingin mencuri dan mempelajari resepnya namun selalu gagal. Meski pun ia mempunyai koki hebat yang ia beri nama Karen Plankton tetap tidak bisa membuat makan selezat Krabby Patty.

Karen sebuah robot yang juga Plankton jadikan istri dengan kemampuan serba canggih tidak pernah berhasil membuat restoran Chum Bucket sukses. Boro-boro berkembang baru memperkenalkan menu terbarunya saja mereka harus berurusan dengan Kementerian Kesehatan Bikini Buttom sebab makanannya diduga tidak sehat dan tak layak dikonsumsi.

Cerita ambisi Plankton ingin menjadi pengusaha sukses dan mengalahkan rivalnya tersebut membuat saya kembali harus berpikir keras. Terdapat kekeliruan sangat fundamental terhadap dirinya sehingga ia selalu gagal. Kalau Plankton paham dan sedikit lebih cerdas, sebetulnya ruh dari kebesaran restoran Krasty Krab itu terdapat pada kokinya, yaitu SpongeBob, bahwa hanya terdapat pada jiwa dan ketulusan yang mampu menciptakan rasa yang sempurna. Robot tak punya itu.

Beberapa episode seringkali menampilkan SpongeBob sedang mengolah Krabby Pattynya dengan penuh keceriaan serta ketulusan. Benar saja ketika ia disuruh membuat dengan keterpaksaan rasa Krabby Patty tidak senikmat biasanya.

Di samping itu, barangkali Plankton juga lupa bahwa secanggih apa pun robotnya tetap tidak akan sanggup berbuat lebih. Begitu pun kehidupan nyata, robot tak pernah menjamin itu semuanya, hanya manusialah yang mampu melahirkan rasa, cinta dan kebahagiaan.

Komentar

News Feed