oleh

Persepsi, Polarisasi, dan Pertarungan Identitas

Atas terjadinya perbedaan dalam memaknai sebuah objek, seseorang dapat diidentifikasi ke dalam identitas-identitas tertentu. Situasi menjadi lebih rumit ketika masing-masing identitas bertarung untuk saling mempengaruhi. Memang tidak keliru. Tapi, itulah yang kemudian melahirkan polarisasi. Setiap orang mengidentifikasi atau—secara sepihak—diidentifikasi sebagai ‘ini’ atau ‘itu’.  ‘Kita’ vs ‘mereka’.

Setiap orang memiliki persepsi masing-masing terhadap sesuatu. Pada objek yang sama, setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda tentangnya. Sekelompok wartawan memiliki frame yang berbeda dalam memandang satu kejadian. Mereka akan menulis kejadian yang sama itu dalam sudut pandang yang berbeda-beda. Pun masyarakat pembaca beramai-ramai memaknainya secara berbeda. Heterogenitas pemaknaan ini telah menjadikan orang-orang berada dalam kubu-kubu tertentu, yang berbeda, bertentangan, saling menjatuhkan, untuk menunjukkan identitas mana yang paling unggul.

Ini kita berbicara di luar konteks keagamaan tentunya. Karena menurut saya, tidak ada yang benar-benar bebas dalam berteologi. Ketika Roanne Van Voorst menulis pengalamannya tinggal di kawasan kumuh Jakarta, lalu menerbitkannya menjadi sebuah buku dan diberi judul Tempat Terbaik di Dunia, itu sah-sah saja, meski mungkin sebagian orang akan menganggap itu hal yang lucu, karena masih banyak tempat terbaik lain di dunia.

Saya pernah mengunggah sebuah foto buku-buku berjajar di rak di kamar saya dan—sedikit terpengaruh oleh judul buku Van Voorst—menulis caption: tempat ternyaman di dunia. Lalu seorang teman, juga dalam beberapa hal adalah guru bagi saya, menulis komentar, bagi O Masjid. Maksud dari komentar itu, bagi O, tempat ternyaman adalah Masjid. Saya mengerti maksud komentar itu, karena Si O kebetulan seorang takmir Masjid.

Tetapi apakah benar masjid adalah tempat ternyaman? Ini juga perlu dipertanyakan. Sekali lagi, ini di luar bahasan teologi. Kalau kita menaruh persoalan ini di ruang teologi, sudah pasti, kita tidak bisa memungkiri, Masjid adalah rumah Allah. Tempat terbaik umat Islam membahas berbagai persoalan seperti yang pernah Nabi Muhammad ajarkan. Tetapi, bagi saya, di luar konteks ketuhanan, tidak semua masjid adalah tempat ternyaman bagi saya. Ketika saya masuk masjid, dan ternyata masjid tersebut agak kotor, berdebu, karpetnya mengeluarkan bau apek, tahi cecak berceceran di beberapa sudut, ditambah lagi kamar mandinya yang tidak dirawat, lumutan, dan bau, saya merasa cepat-cepat ingin keluar.

Van Voorst tinggal di kawasan kumuh Jakarta, lalu menulis pengalamannya menjadi sebuah buku berjudul Tempat Terbaik di Dunia. Kita tahu, tempat kumuh, ya, tempat kumuh. Dan secara otomatis persepsi buruk langsung terkonstruksi dalam kepala. Masjid, ya, Masjid. Persepsi baik secara otomatis akan lahir di dalam pikiran. Tetapi di luar ruang agama, kebebasan berpikir memberikan pandangan lain tentang sebuah objek. Ia lebih dari sekadar apa yang terlintas di depan mata.

Saya tidak sedang menciptakan polemik atas apa yang disampaikan teman saya dalam sebuah komentarnya. Tetapi melalui komentar tersebut saya semakin menyadari, persepsi seseorang atas makna sebuah objek dikonstruksi dari realitas-realitas sosial di mana orang itu melakukan interaksi. Realitas berkumpulnya sekelompok orang dalam suatu forum pasti dikonstruksi oleh realitas-realitas sosial yang lain. Maka, ketika saya menulis caption itu—tempat ternyaman di dunia—untuk gambar buku-buku yang ada di rak di dalam kamar saya—saya memiliki persepsi sendiri atas objek tersebut, tentu setelah saya banyak melakukan persinggungan dengannya. Meski saya tidak memungkiri, saya selalu merasa tenang dan damai berada di dalam masjid, terutama masjid-masjid yang bagi saya masuk dalam katagori masjid yang terawat dan terjaga kenyamanannya dalam semua konteks.

Ini bukan persoalan keliru atau tidak. Salah atau benar. Kita berbicara tentang persepsi, dan persepsi dikonstruksi oleh realitas-realitas lain di ruang-ruang sosial. Kita menarik makna dari sebuah objek melalui interaksi sosial. Kira-kira begitulah kata George Herbert Mead dan George Herbert Blumer dari aliran Chicago. Kita menilai si A cantik dan baik karena kita pernah berinteraksi dengan si A.

Kita menilai objek dengan makna-makna tertentu karena kita pernah bersinggungan secara sosial dengan objek tersebut. Makna tidak lahir dari ruang kosong. Makna lahir dari proses interaksi yang kita lakukan dengan orang lain. Tidak akan ada istilah “seorang intelektual,” “akademisi,” “penceramah,” kalau tidak ada kelompok sosial lain yang mempersepsikannya demikian. Kata Blumer, dalam proses sosial, yang berlaku bukanlah, “you become whatever you tell yourself you are” tetapi “you become whatever those around you tell you your are.”

Saya mengamini pernyataan K.H. Toto Tasmara dalam bukunya Membudayakan Etos Kerja Islami, bahwa manusia adalah khalifatullah, wakil Allah yang bebas menentukan pilihannya sesuai kerangka qur’ani dan Sunnah. Kecuali dalam ruang-ruang yang sudah ditentukan prosedur dan hukumnya dalam Al-Qur’an dan Sunnah, seseorang memiliki kebebasan dalam melakukan konstruksi persepsi atas objek tertentu.

Persepsi, dalam istilah yang lain kita menyebutnya makna, lahir dari kesepakatan sosial masyarakat. Bagi kelompok sosial tertentu, kaya itu mungkin seseorang yang dadanya lapang dan luas seluas samudera. Tetapi bagi kelompok sosial yang lain, kaya itu haruslah punya mobil mewah, rumah berlantai dua, dan punya banyak kartu kredit. Pemberian makna oleh seseorang terhadap suatu objek akan mengalami pergeseran dari waktu ke waktu. Tentu dalam waktu yang relatif lama. Kelompok generasi baby boomers boleh jadi memberikan pemaknaan yang berbeda dengan kelompok generasi Y maupun Z terhadap kemajuan, terutama setelah disokong besar-besaran oleh perkembangan teknologi.

Bergantung pada kerangka apa dan bagaimana yang digunakan, setiap orang melahirkan pemaknaan berbeda pada realitas sosial yang berkembang. Dalam manusia yang dilahirkan heterogen ini, atribut fisik saja tidak bisa dibatasi pada homogenitas tertentu, apalagi pikiran yang akarnya tak bisa diputus, bahkan sekalipun tubuh dikerangkeng dalam ruang tahanan. Hanya saja, barangkali kita perlu belajar cara menyampaikan gagasan dengan baik—sebagai cara menjaga jarak aman—agar tak masuk dalam kelompok-kelompok yang dipandang tak beretika dan berada dalam kelompok garis keras.

Namun demikian, perbedaan-perbedaan dalam membaca realitas sosial dan memaknainya telah membuat sebuah masyarakat terpolarisasi menjadi dua kubu yang saling bertentangan. Kita vs mereka. Orang-orang yang sama secara identitas akan diidentifikasi atau mengidentifikasi diri sebagai ‘kita’, dan memandang yang berada di luar ‘kita’ sebagai ‘mereka’. Ini tidak hanya terjadi dalam pertarungan antar kebudayaan, atau yang lebih besar, peradaban, tetapi juga dalam kelompok-kelompok kecil yang bernaung dalam induk kebudayaan yang sama. Hanya karena berbeda pandangan dalam beberapa hal, kemudian terciptalah polarisasi itu. Kubu calon ini vs kubu calon itu. Kubu kebangsaan vs kubu keagamaan. Dan kubu-kubu lain vs kubu-kubu lainnya lagi.

Akibat polarisasi tersebut adalah timbulnya kerja masing-masing yang acap mengabaikan tujuan kolektif. Masing-masing identitas berperang dalam berbagai konteks untuk menjadi identitas yang paling unggul. Atau, apakah ini yang disebut bekerja di rel masing-masing tetapi dengan tetap menjunjung idealisme retoris tiba di muara yang sama?

Beberapa tahun belakangan ini pertarungan antar identitas menjadi suguhan menarik, baik yang berada dalam layar maupun yang tidak. Orang-orang yang merasa tidak menjadi bagian atau tidak cocok menjadi bagian dari identitas tertentu, karena dalam beberapa hal berbeda pandang, menciptakan identitas baru dengan tidak lupa mengambil fragmen-fragmen sudut pandang-sudut pandang lain yang berguna. Pertarungan identitas semakin sesak dalam budaya layar. Orang-orang semakin ramai berbondong-bondong mengidentifikasi diri untuk menjadi bagian dari identitas tertentu.

Komentar

News Feed