oleh

Pesan Etika dan Moral dari Nenek

-Kolom-242 views

Ada pesan penting saat saya kecil. Sebuah pelajaran tentang moral bersama teman. Nenek tidak hanya pintar berdongeng saat menemani saya tidur, tapi juga pintar menyelipkan nasihat dan anjuran positif. Tentang etika, misalnya. Saya tidak akan membicarakan etika menurut Al-Kindi, Al-Farabi, Ar-Rozi atau yang lainnya. Pesan ini datang dari orang yang sangat dekat dengan saya. Nenek saya.

Nenek pernah bilang begini. “Nak cek atokaran, tak lebur. Itu pesan yang sering saya dengar, tapi nenek selalu mengatakannya. Mari kita tilik lebih rinci. Pertama, cek atokaran (jangan bertengkar). Pesan semacam itu biasanya dikatakan saat seorang anak mau pergi mengaji ke musala atau pergi ke sekolah. Kalimat “Jangan bertengkar” dan konteks di mana pesan itu selalu disampaikan menunjukkan bahwa pencari ilmu tidak lepas dari pergaulan dengan teman.

Artinya, seorang anak sejak dini sudah diajarkan untuk menjauhi hal-hal yang dapat merusak hubungan pertemanan. Meskipun hanya bercanda, namun bercanda yang kelewatan bisa menyebabkan timbulnya pertengkaran. “Agajak kembangnga tokar,” begitu kata orang Madura. Dalam forum-forum tertentu, misalnya, bercanda boleh saja. Tak ada larangan untuk saling gojlok. Tapi setiap sesuatu memiliki batas. Saling gojlok bersama teman, meskipun temen kentel, kalau sudah kelewatan, bisa membuat hubungan pertemanan retak. Bisa jadi akan menimbulkan konflik berkepanjangan.

Maka, sesama pencari ilmu dilarang menimbulkan percikan-percikan api pertengkaran. Permusuhan akan mengganggu kelancaran dalam menimba ilmu. Setidaknya, satu pintu memperoleh informasi dan pengetahuan akan tertutup. Dengan demikian, kita perlu memperhatikan etika dalam melakukan hubungan sosial dengan orang lain.

Sayangnya, dewasa ini sebagian besar dari kita mulai enggan untuk mengingat kembali pelajaran etika seperti pesan yang disampaikan nenek saya. Etika bersama keluarga, teman, bahkan dengan Guru sudah mulai terdistorsi oleh hal-hal tidak perlu. Seolah kalau tidak berkonflik tidak ia tidak dapat menunjukan kesejatian diri seorang manusia.

Kedua, panggilan nak adalah bahasa romantis seorang nenek kepada cucunya. Nenek menyimpan doa dan harapan, agar kelak seorang anak menjadikan hidup lebih berguna. Itu artinya, orang tua mendidik anak melalui banyak cara. Tersirat maupun tersurat. Verbal maupun nonverbal. Secara lisan maupun melalui gesture tubuh.

Kepribadian seseorang sudah dibentuk sejak dini. Seperti saat orang tua memanggil anak-anaknya, yang tidak langsung memanggil nama, melainkan masih mengunakan panggilan “kak”, “dek”, dan yang lainnya. Hal lain misalnya saat nenek mengajarkan saya—saat masih kecil sekali—untuk mengambil sesuatu menggunakan tangan baik. Bisanya, ketika mengatakan “tangan baik” nenek akan mengangkat atau menggerakkan tangan kanan saya. Artinya, nenek mengajarkan etika bukan hanya melalui kata-kata, melainkan juga melalui gerakan. Memberikan contoh langsung.

Namun, belakang ini saya menangkap banyak hal yang terjadi pada generasi muda. Entah berawal dari pendidikan orang tua atau pendidikan formal yang sudah tidak layak lagi kepada anak—tunas bangsa. Perilaku sebagaian besar anak-anak muda sudah banyak yang menyimpang dari kaidah-kaidah etika dan kebiasaan. Ironisnya, karakter anak sekarang seakan lebih tua dari yang tua. Seperti merasa sok tahu meskipun sebenarnya tidak, enggan berkomunikasi dengan tatapan di bawah mata kepada yang lebih tua, bahkan membalas komunikasi tatapan mata di atas mata orang tua.

Ketiga, tak lebur (tidak bagus). Orang tua kerap menggunakan bahasa yang tidak membebani dan tidak menakut-nakuti. Nenek tidak menyebut hukum dari kejelekan di sana, melainkan yang cepat dimengerti dan dipahami. Tidak bagus untuk dilakukan bukan berarti oke saja (mubah) untuk dilakukan. Tapi memberitahu hal-hal buruk dengan cara yang pelan. Tidak langsung menghukumi sesuatu secara ekstrem, selama itu memang tidak ada aturan bakunya. Sebab nilai-nilai dan norma-norma sosial, atau pandangan mengenai baik dan buruk selalu berkembang di sebuah kelompok masyarakat.

Sebagai seseorang yang sangat senior di dunia, nenek bisa saja mengatakan dosa bertengkar dengan teman. Tapi nenek tidak menyalahgunakan kekuasaannya atas ruang dan waktu untuk mewariskan nilai-nilai kebaikan. Nenek tidak mengatakan haram atau dosa karena menjaga keselarasan. Nenek sangat dekat dengan alam. Karena itu nenek selalu menjaga kelembutan ketika berkomunikasi dengan anak-cucunya.

Kehidupan nenek saya sangat dekat dengan alam. Kesehariannya penuh dengan elemen kasih sayang dan penghormatan terhadap alam, sehingga nenek tahu di mana yang tidak boleh ditinggali, dan dilakukan ia sangat melekat pada diri nenek dan orang tua kita saat dulu. Selain mengetahui gerak dan sifat alam sekitar, ia menyerahkan manifestasi amalan, kepercayaan dan pengadaan terhadap kuasa ghaib (mistis), menurut saya bukan berarti musyrik dilakukannya, hanya saja dia lebih mengenal Tuhan dan alam-Nya. Hal ini bukan sahaja kerana masyarakat nenek kita ini perlu menjaga kelestarian persekitaran bagi menjamin kesinambungan hidup mereka, tetapi juga didorong oleh amalan, kepercayaan dan pegangan hidup masyarakat itu sendiri, sehingga cukuplah kuat tentang etika dan bermoral pada lingkungan.

Seorang anak ini memang dicoba untuk diajari menghormati lingkungan dan bangsa yang tidak dengan menggunakan bahasa hukum syarat. Di sini sangatlah tidak adil bagi masa sekarang yang sudah mengetahui tentang kaidah hukum, bagaimana tentang interaksi alam dengan sekitar yang sudah ada bahan bacaan yang tertulis untuk dipelajarinya, namun masih belum bisa mengambil keilmuan yang diterapkan pada kehidupan.

Harusnya banyak menelurkan, ketimbang makan telurnya. Itu kata nenek yang masih saya ingat. Artinya, kita dituntut memberikan dedikasi yang baik pada sekitar, bukan memperindah diri dari alam sekitar, dari lingkungan, dari masyarakat dan teman.

Juhari, masih di bumi.

Komentar

News Feed