oleh

Pro-Kontra Rangkap Jabatan Kiai Miftachul Akhyar di NU dan MUI

Kyai Miftachul Akyar Pada saat di Muktamar ke-34 NU (ist).

Indotribun.id, Jakarta- Pasca terpilih kembali menjadi Rais Aam PBNU, Kiai Miftachul Akhyar yang sebelumnya mengemban diri sebagai Ketua Umum MUI tuai Pro-Kontra dikalangan warga NU terkait rangkap jabatan yang saat di emban dirinya.

Kyai Miftah, Sapaannya sebagai Ketua Umum MUI disoroti publik setelah dirinya terpilih kembali menjadi Rais Aam PBNU. Ini karena forum anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) Muktamar NU menyepakati dirinya tidak rangkap jabatan di organisasi lain. Akan tetapi, petinggi-petinggi MUI berharap Kyai Miftah bisa rangkap jabatan.

“Ada anggota AHWA berpendapat antara lain pendapat itu kalau ingin menjadi rais aam Nahdlatul Ulama 2021-2026 diharapkan untuk tidak rangkap jabatan di organisasi lain. Ada pandangan seperti itu dan itu disetujui oleh seluruh anggota AHWA bahwa rais aam fokus di dalam pembinaan dan pengembangan jamiyah Nahdlatul Ulama ke depan,” ungkap Zainal Abidin, salah satu anggota AHWA seperti ditulis Selasa (28/12/2021).

Perihal rangkap jabatan ini kemudian ditanyakan pada Kyai Miftah sebagai Rais Aam terpilih. Dia disebut siap patuh terhadap arahan tersebut.

“Lalu kami berdiskusi dan berdialog dengan rais aam terpilih, beliau berkata dengan sangat santun sekali sami’na waathona,” tambah Zainal Abidin.

Permintaan AHWA itu membuat Miftachul kemungkinan besar harus melepaskan jabatan Ketua Umum MUI yang diembannya sejak 2020.

Merespon hal tersebut, Sekjen MUI Amirsyah Tambunan, ia mengatakan Kyai Miftah merupakan sosok yang sangat vital peranannya di tubuh MUI.

“Kiai Miftachul Akhyar sebagai ulama sangat dibutuhkan perannya di MUI yang saat ini sebagai Ketua Umum MUI (2020-2025) hasil Munas ke X di Jakarta. Berkenaan permintaan musyawarah AHWA di Muktamar NU yang meminta Kiai Miftachul Akhyar untuk tidak merangkap jabatan sifatnya usulan jadi tergantung pada kesepakatan PBNU. Hemat saya tidak berimplikasi juga terhadap jabatan Ketum MUI,” kata Amirsyah.

Amirsyah berharap Kyai Miftachul Akhyar bisa rangkap jabatan sebagai rais aam PBNU dan Ketum MUI. Sebab, kata Amirsyah, posisi Ketum MUI jauh lebih dahulu diemban Miftachul sebelum terpilih lagi menjadi rais aam PBNU.

“Karena beliau terlebih dahulu menjabat sebagai Ketum MUI sementara keputusan Ahwa baru saja Muktamar NU ke-34. Saya berharap jabatan tersebut dapat dapat dilakukan rangkap jabatan karena sebagai rais aam bersifat kebijakan,” imbuhnya.

(Indotribun/Faruq)

Komentar