oleh

PSHT Sebagai Benteng Degradasi Moral Generasi Muda

Berbicara tentang seni bela diri. Jelas yang terlintas di benak kita adalah PSHT. Sebagai organisasi yang garis perjuangannya menitikberatkan pada terbentuknya semangat persaudaraan. Tentu menjadi khas berbeda dengan komunitas lain pada umumnya. PSHT telah menjadi brand mark yang sangat suprematif dan promotif di kalangan generasi muda.

Kini, PSHT telah menjadi pusat perjuangan dalam pembangunan mental keberanian dan kecerdasan holistik manusia. Baik sebagai makhluk individu maupun sosial.

Secara historis PSHT didirikan oleh pejuang perintis kemerdekaan RI, yakni Ki Hajar Hardjo Oetomo pada tahun 1922. Beliau mengembangkan pencak silat melalui berbagai ikhtiar nama. Hasilnya, atas izin Eyang Suro Suwiryo pada tahun 1948, organisasi pencak silat ini resmi diberi nama  Persaudaraan Setia Hati Tetate (PSHT).

Berkat ikhtiar, doa, kesabaran, keistiqomahan, serta tujuan yang begitu mulia dari para sesepuh, salah satunya Eyang Suro, PSHT kemudian berkembang pesat. Bahkan dari sejak dirintis visi perjuangannya berorientasi pada pembangunan moral dan mental generasi muda. Saat ini eksistensi PSHT menjadi sesuatu yang tidak bisa diabaikan.

Diakui atau tidak, PSHT telah menjadi sentra perjuangan dalam menciptakan manusia-manusia yang berbudaya mulia, berpikir kritis, berbudi luhur, serta menjunjung tinggi iktikad kebersamaan yang bersendi pada nilai-nilai ketaqwaan.

Fakta keberhasilan PSHT dalam melakukan transformasi nilai-nilai keluhuran budi telah mengokohkan semangat persaudaraan sesama manusia. Hal ini bisa dilihat dalam kultur sosial. PSHT telah berhasil membangun budaya kebersamaan, persatuan, silaturahmi, dan saling bahu-membahu dalam menegakkan spirit amar makruf nahi mungkar di tengah kehidupan sosial. Bahkan menjadi tonggak tegaknya moralitas generasi muda.  

Dalam sektor ketertiban dan keamanan sosial. PSHT selalu berupaya dan ikut serta dalam membangun masyarakat yang harmonis, humanis, agamis dan taat pada norma norma budaya sosial yang berlaku.

Itulah sebabnya daya tarik PSHT bagi generasi muda meningkat signifikan,  karena Kultur yang dibangun dalam PSHT sangat alami, inklusif, akomodatif, dan penuh kekeluargaan. Maka logis ketika banyak orang mengatakan bahwa PSHT suatu organisasi yang cocok untuk lintas segmen. Selain itu, sebagai bentuk manivestasi dari hadis Nabi yang artinya “Orang mukmin yang satu dengan lainnya bagaikan satu bangunan yang  saling menguatkan.”

Di tubuh PSHT tidak mengenal kasta. PSHT berprinsip bahwa manusia pada dasarnya adalah sama. Hanya keluhuran budinya yang membedakan satu dengan yang lain, sehingga tercetuslah panggilan ‘Mas’, panggilan sesama anggota PSHT. Sapaan ‘Mas’ secara substansi menerjemahkan tentang kesamaan martabat dan derajat. Ketika seseorang menjadi anggota PSHT yang melekat pada dirinya hanyalah jiwa persaudaraan yang utuh.

Secara teologis, pola pembelajaran di PSHT sangat menekankan pada kerangka semangat ketaqwaan yang sifatnya aplikatif. Buktinya, setiap anggota diajari nilai-nilai filosofis, seperti mengenal diri berbudi luhur, tahu salah dan benar, serta bertaqwa kepada Allah SWT. Hal itu sangat jelas dalam tujuan organisasi PSHT, yaitu mempertebal Rasa Ketuhanan Yang Maha Esa, membentuk manusia yang berbudi Luhur, tahu benar dan tahu salah, menanamkan jiwa kesatria, cinta tanah air dan bangsa Indonesia, mempertinggi seni pencak silat dengan berpedoman wasiat SH Terate, mempertebal rasa cinta sesama, memperkuat mental spiritual dan fisik warga PSHT khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya, dan mempertebal kepercayaan diri bagi setiap warga PSHT atas dasar Kebenaran.

Imam Al Ghazali mengatakan bahwa mengenal diri sendiri adalah kunci untuk mengenal Allah SWT. Logika dasarnya sederhana. Diri sendiri adalah yang paling dekat dengan kita. Apabila kita tidak mengenal diri sendiri, lantas bagaimana kita bisa mengenali Allah SWT?

Imam Al-Ghazali juga mengutip hadits Rasulullah SAW: “Barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya.”

Mengenal diri di sini bukan sekadar mengenali diri secara Dhahiriah, yaitu pada tataran biologis-material. Misal, seberapa besar diri kita, seperti apa wajah kita atau sejenisnya. Bukan juga seperti apa jabatan kita, status sosial, tingkat ekonomi, prestasi dan lain-lain.

Tetapi, mengenal diri orientasinya pada titik yang bersifat hakiki. Ini bisa direfleksikan melalui pertanyaan-pertanyaan seperti siapa yang menciptakan kita, untuk tujuan apa kita diciptakan, dan kemana kita akan berlabuh setelah mozaik kehidupan fana ini hancur, dan bekal apa yang akan menyelamatkan kita menuju titik kehidupan hakiki kelak?

Dengan demikian, ketika masyarakat PSHT mengamalkan semua yang diperoleh di organisasi PSHT, maka mereka akan menjadi uswatun hasanah di mana mereka melangsungkan proses kehidupan. Selamat untuk warga baru 2019! Semuga kita menjadi warga yang shalihun fi kulli zaman wa makan.

Komentar

News Feed