oleh

Santri dan Transformasi Nilai-Nilai Keislaman dan Kebangsaan

Tanggal 22 Oktober menjadi tonggak peradaban bagi semua santri di tanah air sejak ditetapkannya sebagai Hari santri Nasional oleh Presiden Joko Widodo dengan kepresnya. Faktanya, sejak diproklamirkan kemerdekaan RI tak tampak kesempatan bagi masing-masing Presiden untuk memberi legitimasi dan menetapkan hari santri sebagai medium reflektif para santri secara nasional. Kendati begitu, kita tidak menafikan peranan Presiden pertama hingga ke 6 dalam memberdayakan santri melalui kebijakan strategisnya.

Tentu tidak semata faktor sejarah yang melatarbelakangi perlunya menetapkan Hari Santri Nasional. Tapi jauh dari itu Presiden ingin memacu semangat para santri menjadi generasi masa depan Indonesia yang hebat dan produktif, sehingga konsitensi para santri untuk mengembangkan potensinya lebih serius dan kompatibel.

Sejauh ini, eksistensi sejarah kaum santri masih terkesan kurang mendapat atensi legitimasi dari pemerintah. Akibatnya, potret personalitas sosok santri cenderung mengalami krisis di sektor publik-global.

Pun literasi yang mengulas tentang santri masih terbenam dalam etalase sejarah republik ini. Padahal berbicara NKRI selalu identik dengan santri. Sepak terjang perjuangan santri mulai pra kemerdekaan, proses, hingga pasca kemerdekaan sangat determinan. Bahkan, santri bisa dibilang sebagai lokomotif sejarah peradaban bangsa. Kemajuan santri menjadi garansi hebatnya NKRI, baik pada sektor moral maupun intelektual.

Sejarah membuktikan, berdaulatnya tanah NKRI, salah satunya dipengaruhi oleh perjuangan kaum santri. Santri, dengan prinsipnya yang kokoh  yakni “Hubbul Waton Minal Iman” telah mengantarkan bangsa ini pada puncak kemerdekaan. Misal, kita baca bagaimana kiprah perjuangan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, yang dengan gagasan resolusi jihadnya telah membangkitkan semangat santri dan kaum muda tanah air mengusir kolonialisme.

Kemudian, bisa kita baca perjuangan KH. Ahmad Dahlan, sang pendiri Muhammadiyah dan para santrinya, para kiai serta kaum santri lainnya. Kontribusi perjuangan mereka tampak bukan hanya pada proses perjuangan angkat senjata, namun juga pada proses persiapan kemerdekaan dan keterlibatan pada berbagai perundingan. Sebagaimana yang terjadi pada sidang BPUPKI.  Sumbangsih pikiran, dan dialektika kaum santri sangat konstruktif dan solutif.

Hal lainnya, dalam konteks difinalkannya ideologi pancasila sebagai dasar ideologi NKRI, di dalamnya terdapat mata rantai perjuangan kaum santri yang cukup besar. Jelas, ini bukti konkret bahwa kiprah kaum santri cukup besar dalam perumusan dan pendirian NKRI.

Fakta ini yang kemudian menjadi pertimbangan presiden Joko Widodo. Ditetapkannya Hari Santri Nasional sebagai wujud apresiasi dan ajang refleksi bagi santri di nusantara untuk terus meningkatkan spirit perjuangan. Ini penting untuk menjaga keutuhan NKRI secara nyata dari segala bentuk tindakan murtad terhadap pancasila.

Presiden Jokowi ingin menunjukkan pada dunia, bahwa nusantara identik dengan kaum sarungan dan sandal jepit dengan segala kompetensi dan karakteristiknya yang unik, kapasitas intelektualnya, kultur keagamaannya, jiwa nasionalismenya dan patriotiknya yang kental. Keadaan inilah yang membuat santri mampu menjadi trigger nilai-nilai Aswaja transformatif  di Republik ini, seperti tasamuh, tawassut, tawazun, i’tidal.

Dalam konteks kebangsaan, posisi santri sebagai ikon intelektual yang agamis. Memiliki kultur yang inklusif, akulturatif, dan responsif.

Keistiqomahan kaum santri, baik saat di pesantren atau ketika sudah membaur di masyarakat tidak pernah lepas.  Ciri itu yang membuat masyarakat tetap menaruh harapan pada santri untuk menjadi panglima moral di tengah keganasan globalisasi dengan segala dampak buruknya. Arus teknologi informasi digital telah menghadirkan ruang publik yang konektif dan penuh problematik, sehingga dimamika dan problematika yang menempa tatanan budaya kemasyarakatan dipercayakan pada santri untuk dinetralisir.

Artinya, peranan santri tidak cukup hanya menjadi sosok spiritual yang hanya lincah di bidang keagamaan. Di jaman milenial ini santri dituntut tampil lebih kompatibel. Tentu dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bervisi global. Reformulasi peranan santri di ruang publik perlu dimodernisasi agar santri dalam menyampaikan nilai-nilai keislaman dan wawasan kebangsaan bisa dilakukan secara harmonis.

Hari Santri Nasional kali ini setidaknya menjadi titik awal para santri di Indonesia untuk mempertegas peranannya di tengah kehidupan sosial sebagai penuntun, pelindung dan edukator masyarakat. Santri dikenal masyarakat sebagai figur moral, figur sosial, figur  keislaman, bahkan simbol intelektual masyarakat terdidik. Karenanya, mereka harus mampu membangun semangat pengabdian dan memunculkan banyak kreativitas keagamaan dan kebangsaan untuk membangun kesadaran berideologi umat pada pancasila sebagai way of life. Santri berjihad di bidang politik, pendidikan, pemerintahan, keagamaan, kewirausahaan untuk menjadi uswatun hasanah dan pelopor kemajuan dalam berbagai sektor kehidupan umat dan bangsa.

Dengan segala karakteristiknya santri hendaknya selalu menjadi inspirator dan edukator masyatakat, baik soal kebangsaan dan keamaaan. Sebagaimana yang dilakukan para santri terdahulu yang selalu giat mencerahkan dan mencerdaskan umat.

Kita menjadi santri tidak hanya pada saat ada di masjid dan pesantren, sedang ketika berkecimpung di ruang publik khas kesantriannya hilang karena terhegemoni budaya pragmatis, dan terjebak dengan logika kultur sosial yang destruktif. Kita berkeyakinan ketika santri sanggup mengamalkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin kemudian membangun transformasi nilai-nilai  tradisi sebagaimana diperoleh di pesantren seperti tawadu’, istiqomah, kemandirian baik secara politik, maupun ekonomi, rajin membaca, berdialog, berorganisasi, kepedulian, rajin ngaji, dan mengkaji berbagai isu kekinian. Dengan demikian sosok santri akan menjadi pribadi yang hebat dan kontributif.

Logika santri yang berbeda dengan pelajar pada umumnya adalah bahwa tujuan ilmu itu untuk problem solving yang berorientasi pada semangat ketaqwaan dan amar ma’ruf nahi mungkar. Maka logis ketika santri punya paradigma bahwa dalam hidup ini berkontribusi di tengah sosial tidak berpikir harus menunggu jadi apa, tetapi berpikir selama bisa berkontribusi dan selama dibutuhkan semangat kontributif itu tetap dihadirkan di ruang publik.

Itulah sebabnya di mana pun santri berada terlepas menjadi apa pun, peranannya dalam kehidupan sosial selalu maksimal dan penuh kemaslahatan.

Penulis adalah penikmat kopi kemerdekaan tercatat sebagai alumni dan guru di Madrasah Nurul Jadid Jurun Daya.

Komentar

News Feed