oleh

Sejarah Imlek dan Peran Gus Dur Dalam Membahagiakan Umat Konghucu

Saat Gus Dur membuat Masyarakat Tionghoa Tersenyum Bahagia (ist).

Indotribun.id, Sejarah-  Umat Agama Konghucu merayakan hari rayanya tepat pada 1 Februari 2022 yang kemudian disebut dengan Hari Raya Imlek. Pemerintah Indonesia pun menetapkan tiap tahunnya, Dalam Penetapan Imlek sebagai hari libur nasional di Indonesia memiliki kisah yang kelam hingga sampai dibahagiakan oleh Gus Dur.

Abdurahman Wahid, Presiden Republik Indonesia yang ke-4 dan sekaligus cucu dari pendiri Organisasi Masyarakat (Ormas) terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peranan besar dalam proses membebaskan umat Konghucu dari keterbelengguan untuk merayakan hari besarnya. Sebagai salah satu agama yang disahkan di Indonesia, Konghucu 21 tahun yang lalu dilarang untuk reayakan hari besarnya.

Sebagai hari raya umat Kongshucu, Imlek adalah penanggalan lunar yang ditetapkan pada masa dinasti Han di China. Sistem kalender ini mengawali tahun di musim semi, yang dinilai cocok untuk masyarakat agraris China. Perayaan imlek dimulai sekitar abad ke-5 M.

Diambil dari buku Ringkasan Umum Kebudayaan Masyarakat Tionghoa di Indonesia oleh Olivia S.E., M.A, tradisi merayakan imlek yang dikenal di Indonesia saat ini salah satunya berkat gerakan reformasi pada 1998, setelah jatuhnya rezim Orde Baru. Sebab, hidup dan berkembangnya budaya etnis Tionghoa di Indonesia seiring dengan perkembangan politik.

Penerapan dan perayaan budaya Tionghoa sempat dihentikan dan tidak boleh berkembang sepanjang zaman Orde Baru, yang berlangsung 32 tahun. Saat itu, pemerintah menetapkan bahwa Tahun Baru Imlek tidak boleh diperingati secara terbuka di ruang publik.

Sejarah Imlek di Indonesia

  • Datang bersama orang China
    Pakar ketimuran Denys Lombard mencatat, Asia Tenggara banyak disebut di naskah-naskah di China sejak abad ke-3 Masehi. Saat itu, orang-orang China bermigrasi ke berbagai wilayah di Asia Tenggara untuk berdagang, salah satunya ke nusantara.

    Kedatangan orang China saat itu berdampak pada perkembangan sistem kongsi, teknik kemaritiman, sistem moneter, teknik produksi, dan budidaya berbagai komoditas di Indonesia, seperti gula, padi, tiram, udang, gara, dan lain-lain. Migrasi orang China ke nusantara di awal Masehi ini turut membawa budaya perayaan Imlek ke tengah masyarakat.
  • Gus Dur Membahagiakan Umat Konghucu
    KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur saat menjadi orang nomor satu di Indonesia mengeluarkan Keppres No.6/2000 tentang pencabutan Inpres No.14/1967 pada 17 Januari 2000. Pencabutan aturan ini menjadikan masyarakat Tionghoa mendapatkan kebebasan lagi untuk menganut agama, kepercayaan, dan adat istiadatnya.

    Pencabutan Inpres tersebut juga memungkinkan warga Tionghoa untuk merayakan upacara-upacara agama seperti imlek, Cap Go Meh, dan sebagainya secara terbuka. Kemudian pada 19 Januari 2001, Menteri Agama RI mengeluarkan Keputusan No.13/2001 tentang penetapan Hari Raya Imlek sebagai Hari Libur Nasional Fakultatif.

    Hari libur fakultatif adalah hari libur yang tidak ditentukan pemerintah pusat secara langsung, melainkan oleh pemerintah daerah setempat atau instansi masing-masing. Contoh libur fakultatif lainnya yaitu Hari Raya Deepavali untuk umat Hindu.

    Perayaan Imlek sebagai hari libur nasional kelak diterapkan pada era Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2002. Masyarakat Tionghoa saat itu dalam masa transisi menjalani kembali perayaan imlek di ruang publik tanpa rasa takut setelah pelarangannya berlangsung 30 tahun. Imlek sebagai hari libur nasional bertahan hingga hari ini.

Begitulah Gus Dur dengan konsep yang sering digaung-gaungkan semasa hidupnya dengan sebutan ‘Pluralisme’ selalu tersirat disanubari masyarakat Tionghoa dan Konghucu.

Editor: Faruq Bytheway

Komentar