oleh

Selain Berdampak pada Ekonomi, Pandemi Corona Menciptakan Krisis Kemanusiaan Baru

Ilustrasi: Kompas.com

Penyebaran virus corona yang cepat dan meluas membuat banyak perusahaan mengambil kebijakan baru. Kebijakan itu berupa penerapan Work From Home (WFH). Sejak virus corona masuk Indonesia dan menyebar dengan cukup cepat, objek-objek wisata, kantor-kentor pemerintah, dan lembaga-lembaga pendidikan dilibuarkan. Karyawan dan pelajar bekerja dan belajar dari rumah.

Di titik ini, sangat disadari bahwa dampak corona sangat signifikan, bukan hanya pada pekerjaan, tetapi juga terhadap ekonomi. Ini dua hal yang tidak dapat dipisahkan.  

Contohnya, Fitri Nurul Aulia, perempuan cantik berkerudung asal Bogor yang bekerja sebagai editor buku di salah satu penerbit di Jakarta Selatan, mengaku kalau dampak corona yang paling dirasakannya ada pada aspek ekonomi. Pada aspek ini hampir semua pekerjaan mengalaminya. Aulia mengatakan, di tengah pandemi corona, produksi di kantornya mengalami penurunan. Misalnya, ada sejumlah buku yang harus terbit dalam waktu dekat tapi akhirnya harus mundur karena wabah Covid-19.

“Sebenarnya, adanya kebijakan dari kantor untuk Work From Home, menjadikan aku agak kesulitan juga untuk koordinasi dengan Redpel (redaktur pelaksana) dan sesama rekan kerja. Apalagi kan harus ada proof, dan itu harus cetak dan aku agak keganggu dengan itu,” kata Aulia pada Indotribun. “Positifnya, aku jadi punya waktu untuk olahraga dan berkumpul dengan keluarga. Hikmah yang lain, orang-orang mulai belajar untuk menjaga kesehatan.”

Setiap berangkat kerja, Aulia biasa naik Commuter Line. Dia mengaku mungkin karena pihak perusahaan melihat bahwa yang rentan terjangkiti corona adalah orang-orang yang berjubel di tempat atau kendaraan umum, maka akhirnya kantor tempatnya bekerja menerapkan kebijakan seperti yang pemerintah lakukan. Apalagi tempatnya bekerja di Jakarta, kota dengan tingkat rasio terkena corona paling tinggi di Indonesia.

Pandemi corona memang cukup meneror ketentraman hidup umat manusia. Orang-orang yang tidak cukup mengetahui informasi mengenai corona memandang satu sama lainnya penuh kecurigaan. Di Banyumas, warga menolak pemakaman seorang pasien positif corona yang meninggal dan dimakamkan di lahan milik Pemkab Banyumas yang terletak di batas desa Karangtengah dan Tumiyang. Di Kabupaten Malang, warga Sumberpucung enggan mengurusi tetangganya yang mati mendadak karena takut orang itu meninggal gara-gara corona.

Oleh sebab itu, Aulia mengatakan, wabah corona membuat orang jadi saling curiga. “Bersin dikit dianggap corona, terus batuk dikit orang-orang menjauh. Dulu kita menyarankan agar tidak anti sosial, tapi sekarang kita mencoba untuk menjadi anti sosial,” kata perempuan 24 tahun ini. “Tentang masyarakat yang menolak jasad orang meninggal akibat korona, mungkin mereka kurang tahu banyak informasi mengenai korona itu sendiri, jadi hasilnya banyak kecurigaan di tengah masyarakat, sampai-sampai terjadi krisis kemanusiaan. Jenazah ditolak itu krisis kemanusiaan.”

Untuk mencegah dan menghindari wabah corona orang-orang harus menerapkan gaya hidup sehat. Dalam beberapa kondisi juga diperlukan untuk tidak saling berjabat tangan satu sama lain. Mukhlas Adi Putra, seorang pengusaha asal Bondowoso, melihatnya sebagai kewajaran karena hal itu juga termasuk dalam physical distancing.

“Itu merupakan upaya pencegahan apalagi di kota yang sangat rawan, tapi kalau penolakan terhadap penguburan orang yang meninggal akibat positif covid, itu yang berlebihan dan itu diakibatkan kurangnya sosialisasi dari pemerintah terutama di desa-desa,” ungkap pria yang nyambi bekerja di Telkomsel Jember ini.

Lebih lanjut Mukhlas mengatakan, pola pikir orang desa itu tidak mudah percaya terhadap sesuatu selama di desa mereka belum mengalaminya. Apalagi akses informasi hanya melalui televisi, kecuali anak-anak muda yang bisa mengakses berbagai informasi dari internet. Maka, tidak heran kalau di desa orang-orang masih hidup dengan normal. Belum ada dari mereka yang mengenakan masker, belum ada yang menggunakan hand sanitizer. Mereka cuci tangan ketika mau makan saja dan mandi seperlunya.

Di luar itu, Mukhlas mengaku, dampak corona terhadap usaha sangat terasa. Harga-harga turun dan banyak orderan dibatalkan akibat kekhawatiran yang berlebih. “Apalagi sekarang sudah mau diberlakukan pos penjagaan di setiap pintu masuk kota/kabupaten sehingga makin memperparah perjalanan usaha yang otomatis omset juga menurun drastis,” katanya.

Terlepas itu semua, setidaknya masyarakat tidak perlu merasakan takut yang berlebihan dalam menghadapi wabah corona. Poin penting dari penyebaran wabah ini adalah, pertama bahwa manusia perlu menjaga jarak atau memberikan spasi dalam kehidupan. Kata Ustad Ach. Dhofir Zuhry, spasi pada kalimat dan lebih-lebih pada kehidupan sangat penting, karena spasilah yang membuat sebuah kalimat atau kehidupan menjadi bermakna.

Kedua, orang-orang harus sadar untuk selalu menjaga pola hidup sehat, saling percaya, dan selalu menumbuhkan produktifitas selama tinggal di dan bekerja dari rumah. Sekelam dan semencekam apa pun kondisi yang dirasakan, mental positif tetap harus dirawat dan digalakkan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed