oleh

Selamat Tinggal 2019, Aku Sebut Engkau dengan Tahun Pesakitan

-Kolom-149 views

Tahun 2020 sudah tergenggam erat, dan tentu menyisakan tahun 2019 yang kian berlalu. Sebutan akan tahun kemarin sudah tak terdengar kembali. Semua berubah, mulai dari tulisan, lembaran-lembaran penting, hingga persoalan pertarungan perang dagang antara China vs Amerika Serikat sudah tak lagi mencantumkan tahun kemarin—alias berubah dengan tahun sekarang, 2020. Mungkin sampai kepada kasus-kasus besar melanda Indonesia yang tak kunjung usai, berita-berita hoax seketika menjadi santapan lezat tak terbantahkan. Dan itu terjadi di tahun 2019.

Jelas, kenapa Penulis menyebut tahun 2019 dengan sebutan tahun pesakitan? Karena banyaknya pesakitan-pesakitan yang terjadi di negeri ini pada tahun tersebut. Misal, isu kerusuhan asrama Papua di sejumlah tempat yang sekejab berubah menjadi asumsi publik yang tak bisa dielakan. Sikap rasis, arogan sampai kepada tindakan intimidasi yang sangat fatal dilakukan oleh sejumlah oknum tak bertanggung jawab.

Dan tentu kita masih ingat pula betapa mengerikannya konstalasi pertarungan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang kebetulan juga tepat di tahun 2019. Bagaimana politik menjadi komando barisan terdepan bagi para elit-elit penguasa. Mengawal, menjadi alat tempur kepentingan. Sehingga menimbulkan persoalan besar dari masyarakat lapisan atas hingga lapisan paling dasar—merata. Kekacauan di ruang publik tak henti-hentinya terus terjadi, media-media cetak dan online silih berganti setiap harinya yang tak lumput menginformasikan kegaduhan di masyarakat; mulai permusuhan antar saudara, hujat-menghujat di media, dan tidak sedikit pula yang sampai terjerumus ruang penjara—menjadi tahanan yang tak sengaja karena berlebihan berekspresi untuk sebuah upaya kemenangan kelompok tertentu.

Padahal jika kita sedikit mengingat pesan Presiden ke empat kita, yaitu Gus Dur sering bilang “yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan”. Barangkali orang-orang sudah lupa soal kemanusiaan. Atau tidak memperdulikan kembali sebab tertutup ambisi yang membabi buta. Dimana tentang nilai-nilai kemanusiaan harus selalu dijunjung tinggi, jangan sekali-kali merugikan rakyat demi kepentingan pribadi.

Bagaimana Gus Dur memilih mundur hanya untuk menyelamatkan nyawa banyak orang. Ia tidak ingin jika mempertahankan jabatanya sebagai Presiden kemudian nilai-nilai akan kemanusiaan tidak ditegakkan. Gus Dur mengerti jika ia tidak bersalah secara konstitusi, tetapi meski begitu demi atas nama kemanusiaan ia rela mundur dari jabatan menjadi Presiden. Meski waktu itu ribuan orang berbondong-bondong mengepung istana untuk membela dan tetap mempertahankan Gud Dur menjadi Presiden.

Dan pastinya 2019 juga menjadi saksi bisu untuk sebagian orang dalam menerima kekalahan, baik perebutan kekuasaan, hingga soal penyesalan yang tak segara dituntaskan. Barangkali akan mejadi cacatan sejarah untuk selalu dikenang jika di tahun tersebut terlalu banyak kenyataan yang tak sesuai harapan. Dan tak sedikit pula orang-orang untuk bisa menerima akan kekalahan.

Sama halnya juga persoalan cinta. Mungkin di tahun 2019 banyak orang-orang berencana untuk tetap lanjut yang kemudian harus mundur sebab tidak sempat cita-cita menjadi kenyataan di tahun 2020 lantaran karena harus mengakui tentang sebuah kegagalan cinta—dipaksa berkemas, membereskan sisa-sisa kenangan yang dengan susah payahnya dirajut untuk tabungan masa depan yang membahagiakan. Namun semua harus berakhir, dan sesegara mungkin untuk pergi.

Lagian kekalahan sifatnya sementara, bukankah kita sering mendengar sebuah semboyan “habis gelap terbitlah terang”. Artinya, kekalahan tidak melulu akan berlarut, baik dalam pertatungan politik hingga persoalan cinta yang terus-terus menjumpai pada titik ketidakberuntungan. Segera berbenah, ada kalanya seseorang mesti mundur sebentar untuk bisa menghasilkan lompatan lebih jauh.

Memang tidak baik berlarut-larut dalam kesedihan. Belajarlah dari teori yang dikemukakan oleh Sun Tzu dalam bukunya yang berjudul “Seni Menipu Ala Sun Tzu’ bahwa tidak baik terlalu berlarut dalam pertempuran,  perang kesedihan apalagi soal kegundahan. Sungguh memang berisiko jika tetap demikian, akan membuat seseorang frustasi, kemudian memilih pasrah dan menyerah untuk segera mengakhiri hidupnya. Tentu kita tidak mengingkan seperti itu, bukan?.

Harusnya ketika musim dan tahun berubah strategi juga berubah, mendaur ulang untuk yang lebih jitu, lebih variatif. Salah jika tidak bisa membaca keadaan—strategi perang yang dipakai pada musim gugur tidak relevan ketika dipakai untuk musim salju. Sama halnya juga stetagi cinta, jangan sekali-kali menggunakan trik yang sama ketika tahun telah berubah. Bisa dipastikan hasilnya tidak akan berhasil—gagal.

Penulis menyadari betul jika tak banyak yang serupa seperti dikemukakan di atas. Sebagian orang di lain sisi juga beragam bentuk dalam hal mengalami kegagalannya, misal para jomblo yang tak sempat menyalamatkan status jomblonya di tahun 2019, hingga harus ikut terbawa ke tahun 2020, seorang mahasiswa yang tak sempat ada bentuk konkrit negara benar-benar menerima tuntutannya dalam menegakkan keadilan, dan memberantas kasu-kasus HAM, sebagai mana yang mereka lakukan upaya-upaya sepanjang tahun 2019.

memang tak patut kita berlarut terus-terusan dalam bayang-bayang masa lalu—2019. Jika seorang pendekar tak khawatir akan masa tuanya—menjadi bijaksana, seseorang yang terus-terusan mengalami kegagalan juga jangan khawatir untuk mendapatkan kebahagiaan di tahun 2020. Sebaiknya ucapkan selamat tinggal dengan tenang, meski banyak kenangan menyakitan di tahun sebelumnya. Maka kepada tahun 2019 Penulis akan memanggil dengan sebutan tahun penuh pesakitan.

Penulis bercita-cita ingin menikah muda, supaya tidak ada lagi tentang sebuah kegagalan, apalagi atas nama cinta.

Komentar

News Feed