oleh

Seperti Halnya Salat Cinta Tidak Sah Tanpa Adanya Kesucian

-Kolom-468 views

Mungkin sabagian dari kalian pernah membaca salah satu novel terbaik Habiburrahman El Shirazy, Cinta Suci Zahrana. Zahrana, tokoh utama dalam novel tersebut, mempunyai kecerdasan luar biasa bahkan sampai mendapat penghargaan tingkat International di bidang arsitektur itu tidak kunjung menikah, meskipun usianya sudah terbilang tidak muda lagi.

Barangkali, konstruk sosial yang sudah mendarah daging di kalangan masyarakat soal umur menjadi acuan utama dalam hal menikah. Sehingga ketika menemukan seseorang dengan ciri-ciri demikian, maka reaksi yang keluar adalah sebuah anggapan buruk—di luar batas kepantasan—akan dikaitkan dengan mitos-mitos nenek moyang.

Tidak salah memang. Namun jauh dari itu, sebuah kecocokan hati dan cintalah yang mesti menjadi proritas utama. Karena apa? Sejatinya, ketika suatu hal yang didasari keterpaksaan, lambat laun akan menuai kehancuran. Akibatnya, penderitaan panjang yang tak kunjung berkesudahan. Luka-luka kelam tertimbun dengan sendirinya. Tersiksa. Selepas itu, Tuhan menjadi sasaran kesalahan.

Di tangan penulis peraih penghargaan “Sastra Nusantara tingkat Asia Tenggara” itu, kita bisa mengambil sebuah pelajaran penting. Dalam situasi lingkungan yang kejam sekali pun, Zahrana, sebagai seorang perempuan, masih sanggup menjaga kesuciannya. Dan perihal kenapa ia tidak kunjung menikah menurut hemat saya sederhana. Ia masih belum menemukan seseorang yang benar-benar tulus dan suci mencintai apa adanya—tidak ada embel-embel karena prestasinya. Meskipun pada akhirnya ia melabuhkan cintanya kepada seorang penjual krupuk, yang dianggapnya penuh dengan ketulusan dan kesucian.

Sebetulnya, rumus jodoh itu adalah ketika hati laki-laki dan wanita yang saling mencintai sama-sama tunduk kepada Tuhan, dan mengabdikan hidup hanya untuk Tuhan. Wajar saja ketika cinta tidak didasari keimanan kepada Sang Maha Cinta, ujung-ujungnya terbengkalai di pertengahan jalan. Saya tidak sedang mengatakan ketika ada dua insan yang saling mencintai moro-moro berakhir tragis itu disebabkan cinta mereka tidak atas nama Tuhan. Misal, dalam kasus seorang pria yang mengalami kegagalan cinta lantaran si perempuan lebih memilih lelaki buruh semen yang jauh lebih serius menjanjikan. Atau kandasnya cinta lelaki pembual yang hanya ingin menjadikan seorang perempuan sebagai permainan.

Terlepas dari pentingnya rasa cinta yang harus dimiliki oleh manusia, saat ini makna tentang kesucian telah tabu untuk dibicarakan, mengingat banyak perilkau maksiat yang sebagian dari mereka disandarkan atas dalih cinta—kamar-kamar kos perempuan berganti penghuni, di dalamnya tak hanya terdapat perempuan saja, tetapi juga laki-laki. Dalam artian cinta kian terkotori oleh begundal-begundal yang hanya bermodal kata-kata.   

Kekeliruan selanjutnya adalah kita terlalu menggantungkan cinta suci ini kepada manusia. Itu membuat kita terkaburkan atmosfer cinta sehingga kesucian cinta perlahan hilang dengan sendirinya. Jelas adanya.  

Baru-baru ini ada kabar buruk dan baik yang telah menjadi perbincangan hangat dalam tatanan masyarakat kita. Kabar buruknya, angka Janda kian meroket setiap tahunnya. Kabar baiknya, lelaki hidung belang makin gampang mencari mangsa.

Keterpaksaan, belum siap menikah, kesucian telah hilang duluan—menyoblos sebelum waktunya—ngentot yang tak sengaja, mengakibatkan hamil di luar nikah, tuk menjaga aib keluarga, akhirnya dipaksa menikah, kemudian karena belum siap menjadi orang dewasa—banyak tanggungan, jalan satu-satunya cerai, jadilah janda.

Kejadian di atas barangkali adalah salah satu contoh penyebab makin membanjirnya janda-janda di negeri ini.    

Ingat, cinta dan nafsu tipis sekali bedanya. Bahkan nyaris sama. Butuh bukti? Ketika kalian bertemu seorang wanita cantik, body bahenol, lekukan dadanya nampak jelas, tak disangka tiba-tiba kalian punya perasaan suka, berbarengan dengan milik kalian (kemaluan) ngaceng tak karuan. Apakah itu cinta? Tentu bukan, itulah nafsu.  

Tentang cinta sesungguhnya. Kadang mencari makna cinta yang hakiki lewat petuah-petuah para pujangga—muka-muka belepotan dosa, cinta tidak dapat didefinisikan dengan hanya ungkapan kata-kata yang berakhir pada kesimpulan yang tidak memuaskan, kebetulan, dan kadang menyisakan tanda tanya besar.

Cinta sejatinya suci. Sama halnya yang dikatakan oleh M Fatkhurohman Akbar bahwa cinta adalah ekspresi suci, yang harus suci dan diekspresikan dengan cara-cara yang tidak mengotori kesuciannya.

Hemat saya, cinta memang harus dapat dipertanggungjawabkan atas segala aksi oleh para hamba-hamba yang mengaku diri bahwa dia sedang mencinta. Artinya, ketika cinta sudah timbul terhadap seseorang, otomatis kesucian cinta harus pula bisa dijaga, karena seperti halnya salat cinta tidak akan sah tanpa adanya kesucian.

Komentar

News Feed