oleh

Simpatisan ISIS dan Jiwa Nasionalisme

Organisasi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) telah menghembuskan napas terakhirnya, tepat pada pertengahan tahun 2019 lalu. Jauh sebelum tumbang, organisasi teroris ini telah menunjukan eksistensinya selama bertahun-tahun. Berbagai aksi teror yang dilakukan, telah menelan korban jiwa. Sebagaimana yang disampaikan ketua BIN Budi Gunawan pada tahun 2017 “sekurang-kurangnya ada 228 serangan teror di 33 negara, diluar Iraq dan Suriah, dengan korban jiwa mencapai 2.773 orang.

Selain aksi teror yang digembar-gemborkan, ISIS juga masifmelaksanakan proses rekruitmen pengikut.Terbuktiberdasarkan data intelijen the Soufan Group tahun 2015, jumlah pengikut ISIS yang datang dari luar negeri tidaklah sedikit. Dari Eropa mencapai angka 5.000, negara eks Uni Soviet mencapai 4.700, Amerika Utara 280, Afrika Utara 8.000, Timur Tengah 8.240, dan Asia Tenggara 900 orang. Sementara, menurut data BIN tahun 2018, tercatat simpatisan ISIS yang berasal dari Indonesia berjumlah 700 orang.  Yang jelas, aktor intelektual dibalik gerakan agitasi yang berhasil mempengaruhi simpatisan dari berbagai penjuru dunia sehingga menjurus pada tindakan teror yang terorganisir itu, tidak lepas dari jasa seorang Abu Bakar Al-Baghdadi yang juga sebagai pimpinan tertinggi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Setelah sekian lama menunjukan taringgnya, eksistensi ISIS berhasil digembosin setelah mendapatkan perlawanan sengit oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung koalisi pimpinan Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya. Alhasil, organisasi ini  hanya menjadi catatan buram dalam lembaran sejarah dunia Internasional.Lalu, bagaimana dengan nasib simpatisan ISIS terutama yang berasal dari Indonesia ?

Nasib WNI mantan ISIS

Pemerintah Republik Indonesia kini telah mengeluarkan sikap secara kelembagaan terkait kepulangan mantan simpatisan ISIS asal Indonesia dengan jumlah 689 orangyang sekarang masih terkapar di negeri perjuangannya(Turkey dan Suriah). Keputusan final pemerintah Indonesia adalah tidak memulangkannya. Hal itu diputuskan dalam rapat kabinet yang digelar tertutup oleh presiden Joko Widodo dan sejumlah kementrian di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, selasa (11/02/2020). Alasan yang mendasari keputusan tersebut adalah pada soal keamanan dan stabilitas Negara. Sebagaimana yang ditandaskan oleh Menko Polhukam Mahfud MD “Keputusan rapat tadi pemerintah harus beri rasa aman dari ancaman teroris dan virus-virus baru terhadap 267 juta rakyat Indonesia. Karena, kalau mereka (eks ISIS) ini pulang bisa jadi virus baru yang membuat rakyat 267 juta tidak aman”.

Jika pemerintah sudah mengeluarkan maklumat yang demikan, maka nasib warga Negara Indonesia (WNI) eks ISIS, bergantung pada sang Dewi Fortuna. Dalam artian, takdir yang akan menentukan nasib mereka. Bagi penulis, seharusnya keputusan pemerintah demikian harus dipertimbangkan atau ditinjau kembali, sebab WNI mantan ISIS tersebut dipenuhi anak dibawah usia 10 tahun. Toh, kalaupun tidak dipulangkan, cukup yang dewasa atau orang tuanya saja yang mendapatkan sanksi sosial maupun hukum. Tidak usah merembek ke anak-anak dibabawah usia. Mengingat, anak dibawah usia, tidak tahu-menahu soal gerakan ideologi perjuangan maupun soal bangsa dan negara, ia hanya diajak sama orang tuanya. Oleh karena itu, butuh iba pemerintah untuk melindungi segenap anak bangsadan diberikan pendidikan yang layak dengan sokongan moralitas agama dan nilai-nilai ke Indonesiaan,agar kedepannya generasi muda tidak terkontaminasi oleh paham-paham yang dianggap radikaldan bertentangan dengan dasar negara Indonesia. Sebab generasi muda sebagai penerus dan pelurus cita-cita bangsa.

Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme

Kalau kita amati dalam kacamata sosial, ekspansi paham-paham ekstrimis seperti yang diperjuangkan oleh ISIS, sebenarnya tidak lepas dari propaganda ideologi. Maka jangan heran, jika simpatisan dari berbagai penjuru dunia terutama Indonesiadengan jumlah yang terbilang cukup banyak,berbondong-bondong ikut terlibat didalam organisasi terlarang (ISIS) tersebut. Sebab doktrinasi yang dicanangkan adalah doktrinasi ideologi. Disamping, ideologi yang menjadi posisi tawar ISIS, embel-embel duniawi berupa gaji serta jaminan akhirat pasca meninggal dunia juga menjadi sajian lezat yang ditawarkan. Berangkat dari hal itu, sehingga menarik daya pikat tersendiri bagi para simpatisan untuk bergabung dan terlibat melakukan aksi teror.

Sebenarnya, keikutsertaan warga negara Indonesia dalam gerakan organisasi yang berlabel ekstrim itu, menjadi pukulan telak bagi pemerintah dalam hal membumikan nilai-nilai nasionalisme. Sebab, keterlibatan WNI dalam organisasi-organisasi terlarang seperti ISISyang eksistensinya hanya merong-rong kedaulatan negaraitu, terjinak dalam doktrinasi ideologi ekstrimis. Pada hakikatnya, doktrinasi ideologi tersebut sangat bertentangan dengan ajaran nasionalisme Indonesia. Maka, mau atau tidak negara dalam hal ini pemerintah harus tanggap, dengan memunculkan solusi objektif berbaur dengan penanaman nilai-nilai nasionalisme terhadap jati diri bangsa. Mengapa nasionalisme menjadi solusi ?

Sebab, orang yang mudah terpengaruh dan terpapar paham-paham yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan sehingga memporak-porandakan kedaulatan tiap-tiap bangsa itu, dilatar belakangi karena kurangnya rasa memiliki dan menanamkan kasih dan cinta terhadap bangsa dan negara. Bila kita mengorek sejarah perjalanan bangsa, melalui kebangkitan gerakan kepemudaan yang salah satunya dipelopori oleh organisasi Boedi Oetomo, telah melahirkan semangat kebangsaan (nasionalisme) yang semakin tumbuh subur dan melekat dalam hati nurani seluruh elemen bangsa. Disitulah nasionalisme menjadi salah satu rekonstruksi sosial untuk mengintegrasikan seluruh elemen bangsa dalam bingkai kebhinekaan Indonesia (Ilahi:2015). Dalam artian bahwa, nasionalisme sebagai perekat dikala bangsa telah mengalami keretakkan. Begitupun yang dituturkan oleh KH Hasyim Asy’ari bahwa cinta tanah air sebagian dari iman. Hal ini merupakan manifestasi dari nasionalisme dan gerakan konkriet membenamkan semangat nasionalisme.

Cara praktisnya, pendidikan formal, informal maupun nonformal, harus digalakkan dengan semangat membumikan nasionalisme terutama pada generasi muda yang masih terikat dalam lembaga pendidikan tersebut. Agar, paham-paham yang sekarang sedang menggurita kesegala dimensi kehidupan generasi muda yang dianggap bertentangan dengan prinsip dasar kebangsaan itu, kedepannya mampu dibendung melalui counter nilai-nilai kebangsaan. Di sinilah nasionalisme sebagai jawaban atas berkecamuknya paham-paham ekstrimis yang kehadirannya hanya ingin merontokkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Penulis merupakan mantan BEM Malang Raya dan sekarang menempuh pendidikan magister Universitas Islam Malang

Komentar

News Feed