oleh

Suasana Hari Santri: 3 Pelajaran Paling Berharga yang Patut Diteladani

Ilustrasi Santri (Foto; Pinterest).

Indotribun.id, Edukasi- Setiap tanggal 22, Oktober, semua masyarakat muslim di Indonesia turut memeriahkan Hari Santri Nasional. Berbagai acara dan agenda turut juga digelar. Ucapan selama Hari Santri Nasional diberbagai media sosial pun ramai bertebaran.

Sebagaimna kita ketahui bersama, Indonesia memiliki ratusan ribu pondok pesantren yang ada diberbagai pelosok tanah air. Maka selayaknya jika di Indonesia harus diperingati hari santri. Terlepas dari asal muasal kenapa dicetuskannya hari santri atau yang lainnya.

Seorang santri biasanya tinggal di sebuah asrama yang kemudian disebut dengan pondok. Era saat ini bisa dibilang serba mewah, pondok pesantren tidak seperti era dahulu, yang hanya beralaskan karpet dan pondok yang masih terbuat dari bambu dan kayu.

Aktivitas santri pun sangat spektakuler dengan keistiqamahannya,  mulai dari jam 3 pagi, para santri akan dibangunkan untuk shalat tahajud dan mempersiapkan aktivitas di waktu subuh. Terus mengalir hingga sekolah pagi seperti biasa, shalat duhur dan ngaji kitab. Setelah itu ada sekolah sore (Sekolah Diniyah) hingga hampir menjelang magrib.

Di waktu magrib, santri akan difokuskan mengaji al-qur’an, lalu setelah itu ngaji kitab lagi sesuai dengan klasternya masing-masing (Seperti ngaji Kitab Nahwu/Sorrof). Hingga hampir jam 23.00 WIB, baru kemudian santri dapat beristirahat.

Dalam kehidupan santri, tentu saja banyak pelajaran yang bisa kita ambil dan patut kita teladani. Berikut 3 pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari kehidupan seorang santri di pondok pesantren.

  • Santri selalu dituntut dengan hidup sederhana dan mandiri

Seorang santri harus terbiasa dengan kesederhanaan dengan adanya pelarangan penggunaan telepon seluler. Tidak hanya itu, tapi juga pembatasan dalam berpakaian dan kebiasaan lainnya. Meskipun sudah ada yang membolehkan santri membawa handphone, akan tetapi sebagian besar pondok pesantren di Indonesia tidak membolehkannya.

Selain itu, santri ditempa untuk hidup mandiri dengan jauh dari orang tua, memenejemen kiriman dari orang tua pun harus dikendalikan dengan baik.

  • Santri ditempa untuk belajar disiplin

Kedisiplinan tentu saja menjadi ciri khas kehidupan di pondok pesantren yang harus dibiasakan oleh para santri dalam menta’ati berbagai aturan pondok pesantren. Jika mereka melanggar, maka harus berhadapan dengan sanksi yang diterapkan.

Biasanya, santri akan dikenakan sanksi seperti menghafalkan ayat Al-qur’an atau Nadham Alfiyah Ibnu Malik sambil berdiri ketika datang terlambat ataupun sanksi-sanksi lain yang biasa diterapkan dan juga sifatnya mendidik.

  • Belajar hidup dalam keberagaman

Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan negara yang sangat beragam. Hal tersebut tentu saja berlaku juga bagi pondok pesantren yang ada di Indonesia. Santri dari berbagai daerah dan suku berbeda berkumpul dalam satu pondok, akan tetapi para santri tetap hidup rukun dalam kebergaman tersebut.

Hal ini patut kita teladani dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus tetap rukun meskipun hidup dalam lingkungan baru yang beragam. Karena Indonesia merupakan negara besar dengan keberagamannya.

Apakah Anda Sedang, akan, dan pernah menjadi Santri?

(Indotribun/Faruq)

Komentar

News Feed