oleh

Subaidi Pratama dan Dunia Puisi yang Dibangunnya

“Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku sebengis kematian  Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara, di dalam pikiran malam. Hari ini,  aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan, sekecup ciuman” (Kahlil Gibran).

Keren kan, dan siapa sih yang gak suka sastra? Apa lagi sastra atau puisi sering dibuat senjata untuk mendapatkan gebetan. Upsssss..! Keceplosan. Tapi, memang sih karya sastra begitu indah. Tak khayal jika Subaidi Pratama kerap menulis puisi. Menyampaikan hasratnya dalam puisi adalah kenikmatan Tuhan yang tiada tara. Ia semapat bilang, awalnya hanya iseng saja baca buku sastra dan puisi, ehhhh malah jatuh cinta lagi, kampret kan… Heheheh.

Nah…Pengen tau dan mengenal sosok Subaidi Pratama lebih jauh…??? Silakan cicipi obrolan Indotribun.id dengannya.

Di mana Subaidi Pratama menghabiskan masa kecil dan ramaja?

Di kampung kelahirannya, tepatnya di desa Jadung, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Madura.

Sejak kapan suka puisi dan menulis puisi?

Sejak menginjak pubertas kelas 2 MTs, mulai belajar menulis puisi semenjak masuk di pondok pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Raya, tepatnya kelas 2 MA 1.

Apa yang Membuat Subaidi Pratama tertarik dan terobsesi pada sastra terutama puisi?

Mulanya hanya suka membaca buku sastra, kemudian tertarik untuk menulis sastra (Puisi) karena ingin memiliki karya dan buku yang ditulis sendiri.

Hal apa saja yang dilakukan untuk menekuni puisi dan yang lainnya?

Saya suka belajar menulis di bidang apapun, baik karya fiksi maupun non fiksi (resensi,  esai dan opini). Hanya saja kalau di bidang fiksi lebih produktif dan terus menulis puisi. Sedangkan karya cerpen hanya bisa dihitung dengan jari, bahkan nyaris tak ada karya yang dihasilkan sama sekali.

Sudah berapa media yang pernah mempublikasi karya Subaidi Pratama ?

Hampir 70% media massa cetak dan online pernah memuat karya puisi saya. Dari media lokal hingga nasional. Di antaranya, Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Majalah Horison, Radar Surabaya, Republika, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Bali Post, Banjarmasin Post, Padang Ekspres, Medan Bisnis, Minggu Pagi, Merapi, Radar Madura, Lampung Pos dan banyak media lokal lainnya. Juga pernah memenangkan beberapa lomba cipta puisi.

Subaidi aktif di komunitas baca atau sastra?

Di Pondok Pesantren Annuqayah saya pernah mendirikan komunitas PERSI (Penyisir Sastra Iksabad) sebagai wadah menulis dan diskusi sastra bagi sastri, khususnya santri dari Timur Daya yang meliputi kecamatan Batang-Batang dan Dungkek yang bernaung di bawah organisasi IKSABAD. Pada saat kuliah di Universitas Tribhuwana Tunggadewi saya juga menggagas komunitas Malam Reboan. Saat ini, sedang proses membangun rumah baca/perpustakaan desa di kampung kelahiran untuk menghidupkan minat baca anak-anak muda dan para siswa.

Buku apa yang Subaidi Pratama sering baca?

Puisi tetap berpengaruh hingga masa sekarang. Hanya saja bergantung pada kekuatan kata dan kualitas karya puisi itu sendiri. Oleh karena itu, karya puisi tidak pernah mati hingga kini meski selalu dikoyak-koyak sunyi dan sepi.

Kalau tokoh idola Subaidi Pratama?

Buku puisi terjemahan Nizar Qabbani, “Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau”, “Aku” karya Chairil Anwar,  “Celurit Emas” karya D. Zawawi Imron, dan lain-lain. Penyair asal Timur Tengah, Nizar Qabbani, Pablo Neruda, Chairil Anwar, W.S. Rendra, D. Zawawi Imron, Joko Pinurbo, Sutardji Calzum Bahri.

Apa hal paling berkesan selama kuliah di Malang?

Hal yang paling berkesan adalah ketika nongkrong kerap terjadi dialog dadakan bersama teman-teman. Banyak cerita suka dan duka saat kuliah di Malang. Suka duka itu menjadi pelajaran berharga untuk melangkah ke masa depan. Membaca dan menulis adalah salah satu jalan keluar untuk menghindari kejenuhan hidup semasa kuliah. Hal yang paling penting hidup di perantauan adalah memperbanyak teman, asal jangan salah bergaul.

Apa pendapat Subaidi Pratama tentang karya sastra Indonesia?

Cukup banyak penulis pemula khususnya di bidang sastra (puisi) yang terus bermunculan dari masa ke masa dan waktu ke waktu. Kuncinya menulis puisi harus kreatif, produktif dan konsisten.

Apa pentingnya membaca untuk masyarakat?

Membaca itu sangat penting, bukan hanya untuk dirinya sendiri. Akan tetapi juga bermanfaat untuk masyarakat luas.

Goals Subaidi Pratama untuk masa mendatang apa ?

Bisa melahirkan buku-buku baru dan terus produktif.

Pesan untuk anak muda sekarang?

Menjadi anak muda adalah tangga untuk menuju ruang kreatif di masa tua. Sehingga proses hidup di masa muda tidak hanya semata untuk bereouforia. Harus terus belajar, salah satunya menulis dan membaca.

Komentar

News Feed