oleh

Telur Naga Menetas di Sarang Garuda

Ilustrasi by Adi Mahendra

Menyibak duri-duri sejarah hari ini rasanya kian menusuk-busuk setiap kawula yang mencoba mengusiknya. Bagaimana tidak, bisa jadi manusia hari ini adalah endapan-endapan sejarah ribuan tahun silam yang menfosil menjelma manusia-manusia milenial.

Dengan itu, maka saya mencoba bermain-main dengan dua spesies binatang yang lahir dari tumpukan sejarah nyaris seribu tahun berlalu. Binatang endemik yang identik dengan mitos, budaya dan kearifan lokal masing-masing daerah ini masih layak dibahas hari ini.

Apa yang terlintas di benak jika mendengar binatang bernama Naga dan Garuda? Sudah barang tentu kita berfikir ini hanya mitos bukan?

Sah-sah saja jika kita mempunyai tafsir demikian. Sebab mau berbicara tentang kebenaran pun kita sama-sama masih dalam perjalanan. Yang jelas, haruslah terbuka ruang gerak jalan pikiran guna berjumpa dengan kebenaran yang sejati.

Sekitar abad ke 12, lebih tepatnya Desember 1292-Juni 1293 terjadilah serangan yang dilancarkan sekawanan naga terhadap sekumpulan garuda yang sedang mengerami telurtelurnya. Diperkirakan 20.000 hingga 30.000 pasukan naga menyerbu sekumpulan garuda yang sedang menikmati perdamaian dan indahnya wilayah kekuasaan. Hal ini terjadi karena konon sang jenderal garuda enggan membayar upeti kepada negara berkepala naga. Timbullah keributan di antara keduanya hingga menelan sekurang-kurangnya 8.000 jiwa baik yang mati dalam pertempuran maupun yang tenggelam-terurai di lautan lepas.

Sang jenderal naga yang berangkat dengan segala kebencian pun harus tercabik-cabik oleh garuda yang galak-galaknya pasca menuai telurnya. Dipotonglah telinga sang jenderal dan dipaksa harus segera enyah dari bumi kekuasaan sang garuda.

Pasukan naga benar-benar kalang kabut dibuatnya hingga menyerah pasca +- 7 bulan pertempuran.

Kurun waktu yang relatif singkat memang jika dibandingkan dengan serangan yang dilancarkan gugusan singa dari barat yang harus memaksa waktu hingga +-350 tahun lamanya. Pun setelahnya dengan kawanan kelinci yang mencoba mencuri makanan naga namun semua mampu diusir dengan segala kedigdayaannya.

Meskipun kalah, naga-naga picik ini telah menancapkan duri dalam daging si garuda. Mereka sengaja menaruh telur mereka di sarang-sarang garuda. Hingga induk garuda mengira bahwa itu adalah telurnya sendiri. Memang benar jika pepatah mengatakan, “serangan hebat adalah jika musuh tak merasa diserang.”

Tanpa disadari telur naga pun menetas dan berkembang-biak hingga hari ini. Dengan mengantongi dendam nenek moyangnya pantang menyerah untuk merebut wilayah kekuasaan garuda yang subur nan hijau. Konon saking suburnya, tongkat dan kayu bisa ditanam di sana.

Dan hari ini, telur-telur itu menetas dan berkembang biak. Sebab diasuh oleh garuda, perangainya pun menyerupai garuda. Ada pula yang bedandan dengan memasang bulu-bulu indah rontokan garuda. Misi berkuasa tidak sirna. Beberapa sektor sekaligus stakeholder penting di bumi pertiwi berhasil dikelabuhi guna dikuasai. Usut punya usut, tidak hanya di sini mereka ingin berkuasa, melainkan di seluruh belahan dunia. Di daratan mereka membuat lubang-lubang galian dan mendirikan benteng-benteng pencakar langit. Di lautan mereka merampas habis tangkapan nelayan dengan dalih semua bersaudara. Mereka akan terus membabi-buta selama pasar dunia masih tertancap pada kuku-kuku tajamnya.

Kabar baiknya, di antara garuda yang tumbuh bersama ada sekumpulan yang menyadari keberadaan dan misi naga di sarangnya. Mereka siaga, kalaupun terjadi kerusuhan serupa 7 abad lalu itu. Garuda muda tidak segan memotong telinga, bahkan telinga jenderal naga sekalipun.

Kesadaran itu memang tidak serta-merta ada begitu saja, dari mengurai tali-temali sejarah yang mencoba disembunyikan dan meretas visi-misi yang hendak dirancang sedemikian rupa. Melintasi batas gedung-gedung perkuliahan, satu per satu mata garuda terbuka luas dan tak terbatas.

Penulis adalah seorang barista kopi, mengagumi setiap yang pantas mendapatkannya.

Komentar

News Feed