oleh

Tingkatkan Kualitas Kopi, API dan Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama Gelar Klinik Kopi

Sekjen API, Muhammad Nurudin (paling kanan), Ketua Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama, Heryanto (tengah), dan Kades Srimulyo, Mukhlis. (Foto: Dok. API)

Brand Java Dampit cukup terkenal di kalangan pecinta kopi. Kopi Dampit atau robusta Dampit ini memiliki cita rasa kopi yang kuat dan sangat disukai konsumen, baik di nusantara maupun di dunia internasional.

Untuk tetap menjaga dan meningkatkan kualitas tersebut, kelompok petani dampingan Aliansi Petani Indonesia (API), Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama menggelar kegiatan klinik kopi. Kegiatan ini merupakan media pembelajaran bagi petani kopi dan konsumen untuk mengetahui seberapa bagus mutu biji kopi yang diproduksi oleh petani.

“Biji kopi sebagaimana kita ketahui bersama, prosesnya  berlangsung dari hulu dimulai dari petani sebagai produsen hingga sampai ke hilir (konsumen),” ungkap Sekretaris Jenderal (Sekjen) Aliansi Petani Indonesia (API), Muhammad Nurudin, saat melakukan pendampingan kegiatan di Dampit, kabupaten Malang, Selasa (01/09).

Nurudin atau pria yang akrab disapa Gus Din menjelaskan, mutu kopi pada dasarnya terkait dengan berbagai faktor yang menyatu pada sistem pertanian rakyat itu sendiri. Faktor-faktor tersebut meliputi varietas kopi yang dibudidayakan, umur tanaman kopi dan faktor-faktor yang dapat dikendalikan seperti teknik budidaya, cara panen,  pengelolaan paska panen dan penyimpanan.

Baik faktor inheren dan faktor yang dapat dikendalikan berkaitan erat dengan rantai tata niaga kopi dan kondisi sosial ekonomi petani. Sifat masalah yang dihadapi dalam upaya memperbaiki mutu kopi rakyat berbeda-beda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Misalnya, untuk menghasilkan kopi ose robusta di wilayah desa Baturetno, Srimulyo dan Sukodono dibutuhkan 4,7 kg biji kopi glondong merah untuk menghasilkan 1 kg kopi ose.

“Jika melihat aspek finansial, hasil yang didapat dari menjual biji kopi glondong merah akan lebih besar dari pada menjual hasil menjual biji olah asalan,” ujar Gus Din.

Klinik kopi juga merupakan pertemuan multipihak. Kegiatan ini, selain untuk meningkatkan kualitas kopi, juga bertujuan mengembangkan platform bersama dengan pemangku. Klinik kopi melibatkan pemerintah selaku pengambil kebijakan dan kedai kopi sebagai pengolah dan konsumen yang memberikan masukan kepada petani untuk perbaikan dari budidaya dan pengelolaan paska panen.

“Termasuk pengembangan platform antara petan, roastery, konsumen dalam bentuk tim uji cita rasa kopi dalam pendekatan pembelajaran berbentuk klinik kopi untuk memperbaiki ketelusuran dan keterlacakan mutu kopi,” jelasnya.

Kegiatan klinik kopi sangat membantu para petani untuk memperbaiki mata rantai kopi dalam menghasilkan mutu biji kopi (green bean) dalam perdagangan kopi robusta di pasar domestik. Usaha-usaha yang dilakukan oleh petani dan kelembagaan petani (koperasi pemasaran) untuk menjawab sejauh mana perbedaan mutu kopi terhadap harga kopi robusta dapat ditingkatkan dan mendorong petani untuk memperbaiki posisi tawar yang lebih baik.

Menurut Gus Din, hal tersebut akan menjadi panduan dan arah bagi petani dalam mengambil keputusan-keputusan produksi. termasuk hubungannya terhadap perbedaan harga berdasarkan mutu di tingkat petani yang dihubungkan dengan keputusan petani untuk menghasilkan kopi robusta bermutu tinggi berdasarkan nilai rantai dan kondisi harga kopi robusta yang diproduksi.

Komentar

News Feed