oleh

Tips Menulis: Menghadaplah Laptop Seolah-olah Engkau Sedang Salat

Pengalaman adalah potongan-potongan kejadian yang sepintas lalu tak memiliki jahitan satu sama lain. Seperti adegan-adegan yang sama sekali berbeda. Tapi jika mengingatnya lagi sekarang, kejadian-kejadian itu rupanya kancing baju yang saling berkait.

Setidaknya ada beberapa pengalaman yang membuat saya menyadari, sesuatu tak pernah datang tiba-tiba. Ia telah dipersiapkan jauh sebelum manusia menyadarinya.

Suatu hari di penghujung 2018, seorang mahasiswi menghubungi saya hendak melakukan wawancara untuk tugasnya bikin berita feature. Ia memilih saya, entah dengan alasan apa. Yang jelas, sepertinya ia sedang kepepet karena waktu penyetoran tugasnya sudah tinggal menghitung jam.

Itu pengalaman yang kesekian.

Jauh beberapa tahun yang lalu, sekelompok mahasiswa dari sebuah kampus di Malang menghubungi saya—setelah berbicara dengan Ketua Prodi Komunikasi saat saya masih aktif sebagai mahasiswa—mengabarkan bahwa mereka akan membuat film dokumenter tentang saya untuk tugas film dokumenter mereka. Padahal waktu itu saya belum menjadi seperti Lincoln, Mandela, Marie Curie, atau nama-nama beken lainnya yang pantas untuk dijadikan objek utama film dokumenter. Saat itu topik film mereka tentang mahasiswa berprestasi yang kuliah di kampus swasta. Itu sekitar tahun 2012.

Mereka datang membawa peralatan shooting, merekam berbagai kegiatan saya dalam beberapa hari. Tapi, itu bukan pengalaman pertama saya di depan kamera. Sebelumnya, saat masih bau kencur di kampus, saya ditunjuk sebagai aktor untuk memerankan peran seorang guru dalam tugas film kakak senior. Apakah waktu itu filmnya berhasil atau tidak, saya tidak tahu. Dan saya memang tidak bertanya-tanya hasilnya.

Kembali pada mahasiswi yang datang hendak wawancara. Kebetulan saya baru selesai menerbitkan novel pertama saya: Batas Sepasang Kekasih. Kami bikin janji ketemu di kedai makan. Kami tidak makan. Hanya memesan minum. Di tengah-tengah wawancara, pacar perempuan itu menelepon saya, bertanya, apakah mahasiswi itu benar bertemu saya untuk wawancara atau tidak, karena beberapa kali ditelepon perempuan itu tidak menjawab. Mengingatnya membuat saya ingin tertawa.

Satu pertanyaan dari mahasiswi itu yang merayap seperti ulat di kepala hingga membuat otak gatal adalah pertanyaan yang kira-kira kurang lebih begini: kenapa kok tiba-tiba menerbitkan sebuah buku.

Saya mau tanya balik: apakah saya terkesan menerbitkan buku diam-diam? Apakah sekarang zaman Orba yang semua hal, terutama jika beraroma perlawanan, harus dilakukan secara senyap, karena takut diberangus? Hanya saja saya tidak menyampaikan pertanyaan itu. Saya hanya menanggapinya dengan santai, tersenyum lebar, karena tak ada alasan untuk melipat kening, menyatukan alis, di hadapan seorang perempuan berwajah manis.

Kepadanya saya bilang, tidak ada sesuatu yang datang tiba-tiba. Apalagi menulis buku. Itu bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dalam satu malam. Bahkan dalam beberapa jam. Oleh karenanya, bukan sesuatu yang tiba-tiba.

Menulis adalah menaklukkan ego dan ketakutan dalam diri. Bukan pekerjaan mudah. Banyak orang enggan menulis lantaran takut tulisannya tidak dibaca orang, khawatir tulisannya buruk, hingga ketakutan-ketakutan buruk lainnya yang semakin meremukkan keinginan menulisnya. Artinya, menulis sebuah buku hingga menerbitkannya membutuhkan waktu, karena menulis, pada dasarnya, adalah proses pemikiran dan perenungan yang panjang, konsisten dan kontinuitas. Semacam beribadah, tips jitu melakukannya adalah menghadaplah laptop seolah-seolah engkau sedang salat.

Apakah kalian berpikir menulis adalah bakat yang dibawa seseorang sejak dalam kandungan? Semoga tidak, sebab itu akan menjadi sumber pesimis yang paling besar.

Saya sendiri tidak lahir dari keluarga penulis, dan jauh dari tradisi membaca. Saat duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, saya kerap membaca majalah dan buletin yang dikelola teman-teman Pondok Pesantren Annuqoyah Sumenep. Semacam terlecut, kelas XI Madrasah Aliyah saya menulis sebuah puisi. Judulnya Masih Terlalu Pagi—dipublikasikan di Majalah Dinding (Mading) sekolah oleh pengurus OSIS. Puisi itu saya tulis guna mengkritik guru-guru yang cara mengajarnya membosankan.

Kelas XII, saya menulis sebuah cerpen—dimuat di majalah sekolah—dan satu artikel—dimuat di buletin Organisasi Santri Legung (Orsal)—salah satu organisasi daerah yang ada di pesantren Aqidah Usymuni, tempat saya nyantri. Saat liburan pondok seorang santriwati dari pesantren lain, menelepon dan cerita kalau ia sudah membaca cerpen saya—sudah lupa judulnya apa. Cerpen itu menjadikannya sering menelepon dan bercerita tentang keinginan-keinginannya. Ia tidak cerita tentang perasaanya, tapi saya bisa membaca sesuatu yang tak tampak, yang tersembunyi di dasar jiwa, melalui gelagat dan sikapnya, baik ketika kebetulan ketemu, maupun saat ia menelepon. Hal itu lebih jelas saya ketahui, terutama ketika adik sepupunya cerita, kalau ternyata gadis itu menyukai saya. Suatu hari, gadis itu mengirimi saya surat. Berisi ungkapan-ungkapan cinta dan sayang. Berlembar-lembar. Saya baca. Saya simpan. Mungkin fosilnya masih ada hingga sekarang.

Saya berharap suatu saat bisa menulis cerita tentangnya. Tentang kesetiaannya menunggu saya, hingga perasaan patah datang. Mungkin kini ia sudah menikah dan dikarunia anak-anak yang lucu.

Pengalaman-pengalaman itu mengajarkan bahwa waktu memiliki janji yang manis kepada orang-orang yang terus berusaha tanpa lelah. Kita tahu sendiri, waktu tak pernah ingkar janji. Hal lain yang ingin saya sampaikan, menulis boleh jadi dapat mempertemukan kita dengan seseorang yang kita cinta, apakah itu sebatas calon pacar, pacar, atau yang abadi menjadi pasangan sehidup semati.

Tak ada jalan pintas menjadi penulis, meskipun setiap waktu berkumpul dengan orang-orang yang bergelut di rumah kesunyian. Maka, satu-satunya lorong yang harus dilalui adalah ya menulis itu sendiri.

Pengalaman adalah tanda yang diberikan Tuhan bahwa air mata seorang perempuan tidak jatuh begitu saja, tanpa motif, tanpa sebab, tanpa muasal lahir. Pengalaman datang sebagai tanda bahwa ada harga yang harus dibayar untuk memperoleh sesuatu. Termasuk dalam berkarya. Mengenai mahasiswi yang datang mewawancarai saya, entah bagaimana tugas featurenya, apakah diterima dengan baik sehingga berbalas nilai memuaskan atau tidak dari dosennya, tak ada cukup informasi. Yang jelas, tugas manusia adalah berusaha dan berdoa. Selebihnya, biar Tuhan yang bekerja.

Komentar

News Feed