oleh

Tuhan, Perilaku Konsumtif, dan Korupsi

Menjadi anggota DPR saja tidak cukup jika tidak melakukan tindakan korupsi berjamah. Itu seolah menjadi tren perilaku pejabat pemerintah dewasa ini. Karenanya, korupsi, yang sudah menjadi penyakit krusial bangsa ini, seharusnya juga dipandang sebagai kasus asusila. Selama ini tindakan asusila terbatas hanya pada perilaku yang menyimpang dari norma-norma dan kaidah kesopanan yang berkembang di suatu masyarakat.

Pikiran manusia diarahkan ke satu titik sangat mengerikan bahwa tindakan asusila hanya soal zina, homoseks dan lesbian, free sex dan sebagainya. Secara lebih berani, koruspi seharusnya juga masuk di dalamnya. Korupsi adalah salah satu penyakit utama birokrasi. Ada yang berusaha pura-pura bersih dari kasus kotor itu, karena merasa dirinya dari partai berbasis agama, tapi tahu-tahu masuk dalam jaringan KPK karena terindikasi terjerat kasus korupsi berjamaah. Lalu, para mahasiswa melakukan aksi turun jalan, teriak-teriak di depan gedung DPR.

Entah apa lagi yang ingin dituntut, sedang KPK sudah berhasil meringkus mereka. Apa lagi yang diteriakkan, sedang di gedung itu sudah tidak menyisakan lebih dari lima orang yang dinyatakan bersih dari kasus memalukan itu. Lalu, ada pula yang turun dalam formasi berbeda, menyatakan sistem pemerintahan berbasis agama patut menggantikan sistem yang ada.

Revolusi industri dengan moncongnya berupa kapitalsime telah berhasil meninabobokkan sebagian besar kalangan masyarakat. Bahwa kaya saja tidak cukup, kaya harus menjelma candu. Memiliki pabrik di mana-mana, uang mengalir setiap hari ke kantong tanpa perlu melakukan tindakan korupsi, seharusnya mampu menjadi tombol kendali untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat merugikan lebih banyak orang. Tapi, sekali lagi, kaya adalah candu. Tak enak rasanya bila kekayaan tidak terus bertambah, meski cara yang dilakukan adalah menilap.

Bersamaan dengan berkembangbiaknya kapital, getaran-getaran libido korupsi juga semakin meningkat, dan itu tidak sah apabila tidak dilakukan bersama-sama. Parahnya, hasrat buruk itu dilakukan oleh orang-orang elit, yang masyarakat menaruh harapan besar kepada mereka akan terciptanya perubahan signifikan dalam kesejahteraan, selain juga terciptanya birokrasi yang bersih dari tindakan yang dikonstruksi oleh motif primordial.

Sudah tentu realitas tersebut tidak lahir dari ruang kosong. Terdapat induk besar dan sistematis yang telah mengkonstruksinya. Runtuhnya tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet dengan komunismenya, pada saat yang sama, juga menjadi kemenangan bagi kapitalisme dan demokrasi liberal Amerika Serikat.

Kapitalisme kemudian melahirkan problem-problem kebudayaan di tengah bangsa berkembang. Theodor Adorno, salah seorang dari kelompok Frankfurt School, melihat persoalan utama kapitalisme terletak pada kecenderungannya menciptakan kebudayaan yang diproduksi untuk massa berdasarkan mekanisme kekuasaan totaliter, yaitu pengomandoan masyarakat konsumer dari atas. Adorno melihat fasisme dalam kapitaslime melalui ciri-cirinya yang merayakan insting primitif, penolakan akal sehat (unreason) dan pesona akan tanda-tanda kemegahan.

Perilaku konsumtif menjadi akar yang kuat lahirnya masyarakat konsumer. Kecanduan dalam mengkonsumsi barang menjadi jalan lengang meraup modal sebanyak-banyaknya, bahkan menggunakan kewenangan dan kekuasaan yang diberikan rakyat. Hasilnya, ini bukan semata persoalan kemegahan, tetapi juga perebutan kekuasaan di ruang-ruang sosial.

Selain bekerja di bidang bisnis, menjadi politisi adalah jalan terdekat menuju kesejahteraan. Setidaknya—dugaan paling buruk yang sudah menjadi rahasia umum—kesejahteraan pribadi. Dan itu waktak dasar kapitalisme. Keinginan menjadi politisi yang didasari oleh alibi kebutuhan masyarakat akan lahirnya para pemimpin yang tulus mewujudkan kesejahteraaan rakyat memang tidak bisa dianggap keliru. Tidak sedikit para politisi yang berlaku jujur dan terbuka. Tapi tidak sedikit pula para pejabat negara yang diam-diam menghanyutkan. Berlagak seolah bersih tapi nyatanya mengembat uang yang bukan haknya.

Tindakan tidak terpuji itu—menurut saya sudah harus dimasukkan ke dalam tindakan asusila, karena para pelakunya seolah sudah tidak merasa malu dan bahkan sudah menjelma artis dadakan yang dadah-dadah di depan kamera—tentu berangkat dari perilaku konsumtif sehingga kaya bukan hanya simbol, tapi sudah menjelma candu. Parahnya, perilaku konsumtif menjangkiti semua kalangan masyarakat. Termasuk mahasiswa itu sendiri. Apa hubungannya mahasiswa, masyarakat konsumer, dan pejabat korup?

Kemajuan, dalam pandangan filsafat pencerahan, adalah kebaruan yang dikonstruksi oleh kebaruan lainnya. Maka untuk dapat dikatakan maju, orang-orang berlomba mengejar kemajuan tersebut dengan terus mengkonsumsi setiap kebaruan yang lahir. Ponsel baru, pakaian baru, aplikasi baru, motor baru, dan produk-produk baru.

Masyarakat konsumer lahir. Mahasiswa adalah bagian di dalamnya. Lalu, ketika dengan tidak sadar yang dikejar adalah kebaruan-kebaruan yang terus diproduksi, maka hal-hal substantif mulai tersingkirkan. Bahwa di Malang sedang terjadi korupsi massal, tidak banyak masyarakat yang tahu. Bahkan mahasiswa yang selalu mengatasnamakan diri sebagai kelompok yang siaga berada di garda terdepan dalam mengawal kegelisahan sosial, baru melakukan aksi turun jalan setelah merebaknya kabar di berbagai media bahwa 41 dari 45 anggota DPRD Kota Malang terjangkit kasus korupsi.

Ketika sesuatu telah menjadi candu, akal sehat tak memiliki peran berarti. Jiwa selalu dikuasai keterpesonaan akan kemegahan-kemegahan. Dua mobil tidak cukup. Satu rumah kurang. Dibangunlah rumah-rumah megah, lengkap dengan berbagai jenis kendaraan di dalamnya. Bagaimana cara barang-barang itu diperoleh tidak menjadi persoalan, meski secara sadar itu tidak pantas dilakukan oleh wakil rakyat.

Secara rasional, kapitalisme telah mengkonstruksi diri manusia untuk terpesona pada tanda-tanda kemegahan. Namun, meminjam bahasa Yasraf Amir Piliang, di balik rasionalitas dan akal sehat yang membangun kapitalisme, terdapat irasionalitas dan kegilaan hasrat. Kata-kata “kegilaan” berarti merujuk pada tiadanya akal sehat. Atau, manusia menolak kehadiran akal sehat dalam dirinya sehingga yang muncul adalah ekstasi. Pengejaran atas pemenuhan kegilaan hasrat: hasrat berkuasa, hasrat memperkaya diri dan kelompok, hasrat ingin menang sendiri.

Kegilaan-kegilaan hasrat yang demikian menguasai nyaris seluruh sudut hati manusia. Kegilaan tersebut bahkan juga menguasai orang-orang yang secara fisik penuh dengan atribut-atirbut agama. Kurang apa lagi seorang pemimpin yang secara fisik pergi ke Mekah berkali-kali dan mencium Hajar Aswad. Tapi itu tidak berpengaruh apa-apa karena di dalam hati Tuhan tak ada. Dada dikuasai libido mengkonsumsi barang-barang.

Orhan Pamuk, dalam novelnya, Salju, menulis, di bagian dunia ini, keimanan kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang didapatkan dengan renungan dan pengerahan daya kreatif seseorang hingga batas tertetu. Di sini, keimanan berarti pergi ke masjid, menjadi bagian dari sebuah komunitas.

Orhan Pamuk seolah ingin mengatakan, kedekatan manusia dengan Tuhan yang tidak dilakukan dengan kesadaran dan perenungan yang dalam—hanya pada atribut-atribut fisik—tidak akan berpengaruh apa-apa pada kehidupan. Korupsi dan tindakan-tindakan amoral lainnya akan tetap ada karena kedekatan kepada Tuhan hanya tentang atribut, sedang seluruh sudut hati dikuasai Tuhan-Tuhan duniawi.

Latif Fianto, penulis yang bercita-cita nikah muda tapi tidak tercapai. Menulis fiksi dan nonfiksi. Novel pertamanya, Batas Sepasang Kekasih (Basabasi, 2018).

Komentar

News Feed