oleh

Tumbal Rasialisme

-Esai-266 views

Ilutrasi: VOA Indonesia

Bukan suatu keanehan Indonesia terbilang negara yang besar, dan Islam adalah agama yang besar. Maka, tugas penghuni negeri ini ialah mempunyai amanah, kewajiban untuk merawat kebesaran Indonesia. Disamping itu pula, yang tidak kalah sakralnya ialah menjaga kebesaran Islam. Ketika Indonesia dan Islam dapat dilestarikan keorisinilannya maka kita akan ada dalam suatu kejayaan yang besar. Salah satu syarat akan abadi dalam kebesaran itu, kita harus mampu mengimplementasikan makna ‘Wujud Hadhari dan Wujud Tsaqofi’ di rumah yang majemuk ini.

Perlu diulas secara bersama dan seksama terkait lafal Wujud Hadhari yang memiliki arti prinsip keimanan bagi setiap personal manusia beragama yang akan memenciptakan keamanan, keamanan untuk diri sendiri dan keamanan untuk orang lain. Wujudnya keimanan, keamanan akan tercipta suatu ruang kenyamanan. Ketika kita bisa bersujud kepada Tuhan maka kita juga harus bisa mengabdikan diri kepada sesama Manusia. Itulah Puncak beragama. Sedikit meminjam sabda Romo Yai Abdurrahman Wahid (Gus Dur), peran agama sesungguhnya membuat orang sadar akan fakta bahwa dirinya bagian dari umat manusia dan alam semesta.

Mengenai lafal Wujud Tsaqofih secara parsial adalah pandangan hidup. Artinya, di dalam wujud inilah manusia menumbuhkan konsep suatu ideologi tentang alam semesta dan manusia. Maka, akan banyak kemungkinan – kemungkinan diluar nalar jika prinsip Hadhari – Tsaqofih tidak kita amalkan dalam tatanan masyarakat. Slogan yang sering kita simak adalah Kalau bukan kita yang mengamalkan lalu siapa lagi, kalau bukan sekarang kita amalkan lalu kapan lagi. Suntikan semacam itu seharusnya kita amalkan sebagai bentuk pengabdian kepada agama dan negara.

Oleh karenanya, jika masyarakat saling bersinergi membangun kemaslahatan maka kita tidak akan diperbudak oleh kerusakan. Mengapa demikian, sebab akhir – akhir ini banyak sekali oknum yang sekedar mementingkan dirinya sendiri enggan memikirkan kebutuhan orang lain. Sehingga, hakekat Hadhari -Tsaqofih tersebut sebatas mimpi basah. Seperti halnya tentang polemik dua organisasi terbesar di Indonesia yakni antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah (MD) yang sempat menjadi perbincangan publik. Serasa  peristiwa tersebut ada dalang yang berperan didalamnya yang sengaja untuk memecah belah kerukunan NU-MD.

Mereka yang tidak suka kerukunan akan senantiasa berusaha mencari cara dan celah untuk membuat kericuhan tanpa jedah, karena mereka sudah terselimuti oleh napsu angkara murka duniawi. Namun, dengan sikap kedewasaan Nahdlatul Ulama berusaha menghindari cuaca yang mungkin terbilang ekstrim dan buruk. Mengalah bukan berarti rendah, karena NU berpegang teguh pada kaidah “dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih” ( mencegah kemudharatan lebih prioritas dibanding menarik kemanfaatan). Sifat rendah hati yang dimiliki warga Nahdliyin merupakan bentuk dari ajaran agama Islam yang rahmatan lil alamin.

Penolakan – penolakan yang disematkan kepada tubuh Nahdliyin merupakan suatu bentuk bahwa mereka tidak mampu bersaing serta lamanya mereka bersembunyi dalam sifat irinya kepada Nahdlatul Ulama dan lamanya mereka bertapa dengan anggapannya sendiri seolah paling benar sehingga segala cara mereka lakukan untuk mencapai tujuan keburukannya. Meskipun pada dasarnya sangat tidak percaya bahwa Muhamadiyah berbuat sekeji dan sektor itu terhadap Nahdlatul Ulama, karena dalam selayang pandang Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama mempunyai Tugas yang sama. Sama-sama menjaga Ukhuwah Wathoniyah (hubungan kenegaraan), Ukhuwah Insaniyah (hubungan kemanusiaan), dan Ukhuwah Ilahiyah (hubungan ketuhanan). Tiga pilar tersebut  harus dijadikan pondasi bagi para pemeluk agama serta menjadi pokok dasar para generasi Muhammadiyah dan generasi Nahdlatul Ulama terkhusus untuk penulis sendiri. Agar kita tidak mudah termakan hasutan dan provokasi yang membuat kita terisolasi oleh sekelompok orang yang ingin merusak kesatuan antar umat beragama dan bernegara. Agar upaya arus pemberontakan mereka menjadi imajinatif tidak ubahnya manusia normal yang bermimpi basah. Nikamat dalam dunia hayal tapi mencekam di dunia nyata. Sinkronisasinya adalah mereka yang berniat jahat seolah akan berhasil mengadu domba NU-MD tersenyum di dunia fiksi, namun setelah kegagalan rekayasa busuknya tidak berhasil maka mereka akan merengek di dunia fakta dan tepuk jidat sampai mengkilap hitam.

Maka, dibagian akhir penulis hanya mampu mencoret kalimat paling sederhana bahwa, solidaritas jangan sampai tertukar oleh  kepentingan apapun, karena aset masa depan itu jauh lebih berharga nilanya dari sekedar profitabilitas masa kini.  (Allahu A’lam Bis-Showab)

Penulis adalah alumni Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang Jurusan Ekonomi Manajamen.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed