oleh

Menafsir Dampak Redenominasi Rupiah

-Kolom-843 views

Redenominasi atau penyederhanaan nilai mata uang akhir-akhir ini sedang hangat dibicarakan di kalangan para ekonom, pemilik bisnis, dan pengusaha. Redenominasi yang merupakan pemangkasan nilai mata uang untuk lebih sederhana adalah salah satu strategi kebijakan keuangan yang diambil oleh pemerintah untuk menstabilkan keuangan negara. Saat inflasi terjadi, jumlah satuan moneter akan ikut bertambah, disebabkan harga barang di pasaran semakin naik. Ketika harga barang-barang naik, maka lambat laun nilai tukar mata uang itu sendiri kehilangan daya belinya. Sehingga, akhirnya nilai satuan moneter di suatu negara semakin besar.

Pecahan nilai mata uang Indonesia se-ASEAN berada di urutan ke-2 dunia setelah Vietnam. Sedangkan di kancah International terdapat persepsi yang kurang positif terkait nilai tukar rupiah terhadap nilai tukar dolar AS, karena rupiah merupakan mata uang dengan jumlah angka terbesar/terburuk (dalam puluhan ribu), berada pada posisi kelima di dunia setelah Iran, Sao Tome, Vietnam dan Belarus. Masalah tersebut akan berdampak pada kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap rupiah. Akhirnya masyarakat lebih memilih untuk memiliki mata uang asing. Sedang kepercayaan masyarakat pada mata uang sendiri sangatlah penting, karena dapat menjaga stabilitas ekonomi negara dengan mengendalikan penggunaan mata uang asing di dalam suatu negara. Di sisi lain, kredibilitas pemerintah dalam menetapkan kebijakan, baik moneter maupun fiskal, juga akan berkurang apabila masyarakat sedikit memegang mata uang asing.

Hal ini membuat Bank Indonesia merencanakan redenominsai rupiah pada 3 Agustus 2010. Redenominasi dilakukan dengan cara memangkas 3 nilai angka digit di belakang. Contohnya Rp 1.000 menjadi Rp 1, Rp 100.000 menjadi Rp 100, Rp 1.000.000 menjadi Rp 1.000. Pada 2013 nilai pecahan mata uang terbesar di miliki Indonesia adalah uang kertas sebesar Rp 100.000. Nilai pecahan mata uang Indonesia tertinggi setelah Vietnam yang memiliki 500.000 Dong Vietnam.

Bank Indonesia merencanakan redenominasi dibagi dalam empat tahap yaitu: (1) sosialisasi, dimana dalam tahap ini Bank Indonesia mensosialisasikan dan meyakinkan masyarakat bahwa redenominasi berbeda dengan sanering. Akan ada penyesuaian pada sistem akuntansi dan informasi yang dilakukan secara bertahap. (2) tahap transisi, pada tahap ini Bank Indonesia menerbitkan uang baru yang akan ditandai “UANG BARU” dengan nominal 1/1.000 kali uang lama dan juga akan memberikan harga barang dengan doble price atau pemberian harga uang baru dan uang lama. (3) Penarikan uang lama, dalam tahap ini Bank Indonesia akan menarik semua uang lama dan tidak akan ada lagi uang lama yang beredar. (4) pemantapan, pada tahap ini Bank Indonesia akan menghapus tanda “UANG BARU” di atas kertas uang dan menghentikan dengan design baru tanpa ada kata-kata UANG BARU (Hutauruk, 2011).

Terlepas dari tahap perencanaan redenominasi tersebut juga perlu adanya payung hukum yang jelas serta dukungan dari berbagai elemen masyarakat guna mengatasi terjadinya risiko. Risiko ini terkait dengan potensi kenaikan harga yang berlebihan sehingga berdampak pada meningkatnya inflasi, penolakan dari masyarakat dan risiko perselisihan.

Z´ıdek dan Chribik (2015) mengatakan, “Polandia, Turki, dan Rumania berhasil melakukan redenominasi secara langsung. Polandia berhasil menghilangkan 4 angka nol pada tahun 1995. Kondisi perekonomian Polandia berangsur membaik dengan tingkat inflasi dari tahun 1995 sampai 2014 rata-rata sebesar 5%. Sebagai perbandingan, sebelum redenominasi rata-rata tingkat inflasi sebesar 40% dari tahun 1991 sampai 1994. Turki melakukan redenominasi karena laju inflasi yang terus meningkat sejak tahun 1970, yang mencapai 137% pada tahun 1998. Turki melakukan redenominasi mata uang Lira tahun 2005”. Sedangkan di Rumania diungkapkan oleh (Daniel, 2010) bahwa Gubernur Bank Nasional Rumania melakukan redenominasi mata uang Lei pada 1 Juli 2005. Redenominasi di Rumania menunjukkan hasil yang memuaskan dengan nilai tukar yang menguat. Sebelum redenominasi, nilai tukar terhadap USD sebesar 29,891 Lei dan terhadap Euro sebesar 36,050 Lei. Setelah redenominasi, mata uang Rumania menguat terhadap USD menjadi 2,98 Lei dan terhadap Euro menjadi 3,6 Lei”.

Demi suksesnya proses redenominasi, kerja sama yang erat sangat diperlukan antara pemerintah, BI dan OJK serta didukung perbankan, asosiasi industri dan pengusaha, lembaga pendidikan serta lembaga masyarakat lainnya. Begitupun kemajuan teknologi informasi media massa dan media sosial dapat mendukung kebijakan redenominasi rupiah.

Faktor yang mempengaruhi redenominasi

Pertama, adalah ditinjau dari banyaknya digit nol. Dapat diilustrasikan seperti Rp 203.987.654 terdapat 9 angka pada jumlah nominal. Hal ini akan kompleks apabila suatu perusahaan menjual barang dengan jumlah quantity 100.000 unit. Adanya transaksi tersebut dapat mempersulit investor luar Negeri dalam melakukan perhitungan dengan jumlah triliunan rupiah. Sedangkan kapasitas mesin hitung terbatas. Dengan adanya pemangkasan 3 digit angka di belakang diharapkan dapat mempermudah pencatatan transaksi keuangan suatu instansi, perusahaan dan investor dalam negeri juga luar negeri.

Kedua, adalah adanya inflasi yang tinggi di Indonesia. Inflasi secara umum adalah kenaikan harga barang/jasa secara terus menerus diakibatkan ketidakseimbangan antara harga barang dan arus uang. Dampak dari inflasi mengakibatkan jumlah uang yang beredar meningkat, nilai mata uang menurun, distribusi barang tidak lancar. Inflasi mempunyai dampak positif dan negatif bagi suatu negara. Dampak positif adalah banyaknya kesempatan bekerja di pabrik karena investasi modal meningkat, akibatnya jumlah kuantitas barang meningkat, peredaran barang menjadi cepat, keuntungan para pengusaha bertambah banyak. Sedangkan dampak negatif dari inflasi adalah harga barang/jasa naik, masyarakat malas menabung karena suku bunga Bank rendah, spekulasi dan kepercayaan masyarakat terhadap mata uang menurun. Ada 6 hal yang menyebabkan terjadinya inflasi adalah ekspor-impor, tabungan dan investasi, penerimaan dan pengeluaran negara. Jika terjadi keseimbangan(balance) untuk ke-6 sektor tesebut, tidak akan terjadi inflasi.

Dampak Redenominasi pada Nilai Tukar Rupiah

Dalam analisis global adanya redenominasi memiliki dampak yang positif pada bangsa Indonesia. Karena nilai penyerderhanaan mata uang dapat memicu kredibilitas nilai rupiah lebih meningkat dan dapat disejajarkan dengan negara-negara lain. Misal, yang tadinya USD 1 sama dengan Rp 13.000, namun setelah adanya redenominasi USD 1 nantinya akan setara dengan RP 13. Terlihat perbedaan yang signifikan bukan pada penyebutan angkanya? Inilah yang dirasa akan mampu meningkatkan kredibilitas uang rupiah.

Sejatinya inflasi disebabkan oleh nilai tukar mata uang yang merosot karena kenaikan pada harga-harga di pasar. Meskipun redenominasi tidak memotong nilai mata uang rupiah, namun dampak redenominasi pada mata uang rupiah akan sangat mungkin menciptakan inflasi. Sebab penyederhanaan nilai mata uang ini yang akan menyebabkan pembulatan nilai pada rupiah. Sehingga tadinya harga hanya Rp 15.500,- setelah terjadi redenominasi pasti terjadi pembulatan menjadi Rp 16,- dan bukannya Rp 15.5,-. Oleh sebab itu, setiap harga pasti akan terjadi kenaikan, dan kenaikan inilah yang bisa memicu inflasi besar-besaran bila pemerintah tidak mempersiapkan kebijakan redenominasi secara menyeluruh dan merata.

Dampak terhadap Perekonomian Indonesia

Sertiap kebijakan baru pasti memiliki dampak positif dan negatif begitupun dengan redenominasi. Banyak pakar menyebutkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang stabil dan tepat untuk melakukan proses redenominasi. Hal ini selaras dengan pernyataan Pambudi et al. (2014) yang melakukan penelitian tentang apakah kondisi ekonomi suatu negara memengaruhi kesuksesan kebijakan redenominasi dengan menggunakan data historis negara-negara yang melaksanakan redenominasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara yang melakukan redenominasi akan meningkat lebih tinggi apabila pertumbuhan ekonomi sebelum kebijakan redenominasi juga tinggi dan tingkat inflasi rendah.

Bagi negara, pelaksanaan kebijakan redenominasi dapat memberikan implikasi positif, yaitu dapat meningkatkan kredibilitas Rupiah, menghemat biaya percetakan uang, mempermudah transaksi pemerintah. Bagi pelaku usaha, redenominasi dapat meningkatkan efisiensi proses input data, pengelolaan database, dan pelaporan data. Selain itu, redenominasi dapat mengurangi biaya penyesuaian perangkat keras dan perangkat lunak sistem akuntansi dan teknologi informasi. Bagi masyarakat, kebijakan redenominasi akan mempermudah transaksi ekonomi. Sedangkan dampak negatif dari redenominasi, menurut Eric Sugandi, pertama, adanya tekanan inflasi karena pembulatan harga. Kedua, ada biaya yang dikeluarkan untuk pergantian sistem, misalnya di perusahaan dan perbankan. Dampak redenominasi rupiah dipandang tidaklah terlalu lama, sebab lebih banyak dampak positifnya, yang terpenting dari redenominasi adalah menjaga kestabilan nillai tukar dan menjaga inflasi tetap rendah dan stabil. Di sisi lain juga perlu adanya perhatian bahwa Indonesia terdiri dari berbagai pulau terpencil yang jauh dari akses informasi. Penerapan redenominasi ini harus disampaikan melalui informasi dan sosialisasi yang menyeluruh.

Komentar

News Feed